Di Ji’ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami.
Ada keputusan yang disalahmengerti. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.
Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.
Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry.
Maka, hari itu di Ji’ranah, ada yang kasak-kusuk, ada yang memercikan api, “Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri!” Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.
Hari itu juga utusan Anshar, Sa’d bin Ubadah menemui Sang Rasul. Hatinya gusar. Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau. Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan. Sa’d bin Ubadahlah yang memberanikan diri.
“Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang. Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun.”
Kata menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun. Ada kecewa, tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.
“Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa’d?” tanya Sang Rasul.
“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku.” Jawab Sa’d menjelaskan perasaannya. Jujur. Apa adanya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa. Rasulullah lalu meminta untuk mengumpulkan semua orang Anshar.
Pada mereka Rasul menenangkan.
“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk?
Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?”
Orang-orang Anshar itu membenarkan.
Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan.
Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa.
Saya bayangkan hari itu di Ji’ranah , para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.
“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, ‘Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat.
Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu.”
Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak...
Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu.
Saya juga membayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. dan akhirnya ....
Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.
“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?” tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat. Semua terdiam.
Pertanyaan itu mengetuk sisi terdalam dari jiwa para sahabat. Jiwa yang sejak semula disemai iman.
“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam.” Rasul mulai menjelaskan alasan kebijakannya.
Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam.
“Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya.”
Kata-kata itu begitu dalam dan jujur.
Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan. Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan, “Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?”
Sebuah perbandingan yang kontras.
Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba.
Tangis para sahabat meledak.
Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan kesadaran setelah kekecewaan? Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.
Kisah di atas teramat panjang. Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.
Setiap kita mungkin pernah kecewa.
Sebabnya bisa bermacam-macam.
Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai. Kecewa itu bisa muncul dimana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.
Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan. Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami. Di ruang-ruang kerja, kekecewaan dapat juga timbul. Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba.
Dalam dakwah, kecewa bisa juga tumbuh bagai ilalang. Sebabnya bisa bermacam-macam. Gagasan yang ‘dianggap’ tidak diperhatikan, selera-selera yang tak sama, kebijakan qiyadah yang tak memenuhi keinginan kita, perilaku dan tindakan ikhwah, dan yang lain.
Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa. Sebagian di antaranya menyikapi dengan marah, kalap, bahkan bisa juga dengan ‘mutung.’
Namun Sebagian yang lain mampu menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.
Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kembali orientasi kita. Selialah motif kita. Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas. Inilah saat paling tepat untuk menakar motif dan orientasi kita.
Semoga pengiring atas rasa kecewa adalah sikap lapang dada, semangat beramal yang makin menggelora, keikhlasan yang mempesona, dan penghormatan pada sesama.
Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita.
Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga devisit emosi.
Sedari awal, kita memilih jalan dakwah,
bukan karena ingin selalu disenangkan... bukan .. sungguh bukan karena itu
Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan. Kadang tak semua hasrat hati mesti terturuti. Begitulah tabiat perjalanan ini; kesediaan untuk berjalan bersama, mesti diikuti lapang dada atas segala kecewa yang muncul menggoda.
Kita memilih jalan dakwah semata karena berharap ridha Allah. Seluruh rasa kecewa itu hanyalah liliput atas kerinduan kita yang besar atas keridlaan Allah.
Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal
Selasa, 14 Juni 2016
Senin, 30 Mei 2016
Aamilatun Naashibah
Kita sering membaca ayat dari Al Qur'an.
Ayat ke 3 surah Al Ghosyiyah, mari kita perhatikan sisi lain dari penjelasan ayat yang sangat menggugah itu. Allah Ta'ala berfirman:
عاملة ناصبة
"Amilatun nashibah"
Artinya:
amal-amal yang hanya melelahkan.
Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka dan para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata cara) yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.
Astaghfirulah hal'adzim…
Alkisah, Seorang shahabat Umar bin Khathab RA menangis saat mendengar ayat ini.
Suatu hari Atha As-Salami rh, seorang Tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, "Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.
Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, "Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas."
Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu.
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis."
Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.
Hanya dengan ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
Maka bukan hanya dengan beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dengan sebenar-benarnya dan berkualitas.
*Karena syarat diterimanya suatu 'amal adalah ketika amal itu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.*
Allahu a'alam
Semoga bermanfaat
HANYA ALLAH YANG SANGGUP MEMBALAS PARA PENGEMBAN DAKWAH YANG IKHLAS
Anda adalah orang besar dalam pandangan Allah, meskipun yang Anda lakukan itu tampak kecil dan sederhana dalam pandangan manusia. Yang anda lakukan adalah aktivitas yang mencengangkan, meskipun banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia. Bobot perjuangan Anda lebih berat daripada himpunan gunung-gunung batu, meskipun banyak orang yang meremehkannya.
Anda telah mengukir sejarah dengan tinta emas. Para malaikat di langit hormat kepada Anda. Apa yang telah Anda lakukan benar-benar sesuatu yang luar biasa. Pilihan Anda benar-benar menakjubkan.
Pilihan, aktivitas dan prestasi Anda tidak layak jika hanya dinilai dengan duniawi. Dunia ini tak kan cukup untuk dijadikan balasan untuk Anda. Dunia ini terlalu kecil. Pujian manusia tak akan sanggup menggambarkan kemuliaan Anda. Sebab, yang layak buat Anda adalah rahmat dan keridhaan dari Allah dan Rasul-Nya. Surga, negeri keabadian, itulah yang layak buat orang-orang seperti Anda.
Oleh karena itulah, jika ada diantara kita yang masih mengharap dunia dengan aktivitas kita, atau merasa iri dengan sebagian anggota masyarakat yang mendapat bagian dunia yang lebih banyak, atau mengeluh dengan keadaan yang serba kekurangan, atau tidak adanya ucapan-ucapan terima kasih dan sanjungan dari masyarakat, maka sebenarnya hal itu merupakan sikap yang kurang tepat. Sebab, Anda lebih layak mendapat yang lebih besar dari itu, yaitu rahmat dan keridhaan dari Allah dan Rasul-Nya.
Namun jika ada diantara kita yang masih sedikit mengharap balasan-balasan kecil berupa kenikmatan dunia, maka hal itu adalah wajar karena Anda adalah manusia biasa, bukan malaikat. Namun, sebenarnya Anda tidak layak jika mendapatkan reward berupa dunia. Anda lebih berhak untuk mendapat yang lebih besar dari semua itu.
Oleh karena itu, marilah kita kejar yang lebih besar. Kita tidak perlu sedih dengan hal-hal kecil dari pernak-pernik dunia.
Marilah kita ambil pelajaran dari peristiwa yang pernah dialami oleh para sahabat Rasulullah yang saat ini perjuangannya tengah kita lanjutkan.
Suatu ketika Rasulullah pernah membagikan harta ghanimah dari perang Hunain. Kepada pemimpin-pemimpin Arab dan orang-orang muallaf (orang yang baru masuk Islam) diberikan jatah yang banyak, sementara sahabat Anshar tidak diberikan apa-apa. Sebagai manusia biasa, sahabat Anshar kurang berkenan terhadap keputusan yang telah diambil Rasulullah ini.
Karena itulah, kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka dan menjelaskan mengapa beliau membaginya seperti itu. Rasulullah menyatakan bahwa beliau akan senantiasa bersama mereka, dan sangat mencintai mereka. Rasulullah menjelaskan bahwa pembagian itu dilakukan semata-mata untuk memikat hati (para muallaf), karena tipisnya keimanan mereka.
Rasulullah bersabda, “Demi Allah, jika kalian mau, maka kalian dapat berkata, ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, namun kami justru membenarkan engkau. Engkau datang dalam keadaan lemah dan kami yang menolong engkau. Engkau datang dalam keadaan terusir dan kamilah yang memberikan tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin dan justru kamilah yang menampung engkau’.
Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat keduniaan, yang dengan keduniaan itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan terhadap keislaman kalian aku sudah percaya?
Wahai orang-orang Anshar, apakah hati kalian tidak berkenan jika orang-orang lain kembali pulang membawa domba dan onta, sedangkan kalian kembali pulang bersama Rasulullah ke tempat tinggal kalian?
Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar menempuh jalan yang lain, tentu aku memilih jalan yang ditempuh orang-orang Anshar.
Ya Allah, berikan rahmat kepada orang-orang Anshar, anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka.”
Belum selesai Rasulullah berkata, mereka tak mampu membendung air mata, sehingga air mata jatuh berlinangan. Mereka berkata, “Kami ridha terhadap Rasulullah.”
Ya, mereka sangat berbahagia dan bergetar hatinya mendapatkan ridha dari Allah dan Rasulullah. Kemilau perhiasan dunia yang sempat terbersit di hatinya segera dihilangkan.
Dunia ini terlalu kecil. Maka, tidak layak sesuatu yang kecil ini kemudian menyita seluruh energi kita sehingga sesuatu yang besar menjadi terbengkalai. Sudah sewajarnya dunia dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya tidak membuat kita sedih dan lupa. Rasulullah bahkan menggambarkan dunia itu hanyalah setetes air dari lautan.
Beliau bersabda, “Perbandingan dunia dan akhirat itu seperti salah seorang dari kalian memasukkan jarinya di laut, kemudian perhatikanlah apa yang menempel ketika ia diangkat (itulah dunia).” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Allah, sang pencipta dunia dan seluruh isinya, menjelaskan tentang dunia ini, “Katakanlah, ‘kenikmatan dunia itu sangatlah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi siapa yang bertaqwa.” (TQS. An-Nisa [4]: 77). “Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara). Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (TQS. Al Mu’min [40]: 39)
Jadi, orang besar seperti Anda dan seperti sahabat Rasulullah tidak layak jika hanya mendapat balasan yang kecil berupa dunia. Anda dan Sahabat Rasulullah lebih berhak mendapatkan balasan yang jauh lebih besar dari semua itu, yaitu keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Hanya Allah saja yang sanggup memberikan jannah (surga) kepada hamba-hamba-Nya yang mulia.
“Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama dan awal masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (TQS. At-Taubah [9]: 100)"
Wallahu a'lam.⚫️
(Ust Choirul Anam)
Saat Ajal Yang Pasti Itu Tiba
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
Hidup adalah rangkaian waktu. Waktu demi waktu terangkai menjadi satu, diberikan kepada setiap manusia sebagai ajal. Iya, itulah tenggat waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, setiap umat, kaum dan manusia mempunyai ajal, tenggat waktu. Ketika tenggat waktu yang diberikan telah berakhir, maka tak satupun yang bisa meminta ditangguhkan. Begitu juga ketika tenggat waktu itu belum tiba, maka ia pun tak bisa diajukan, meski hanya sesaat. Itulah ajal manusia.
Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai ajal [tenggat waktu]. Ketika tiba ajal mereka, maka mereka tidak bisa meminta ditangguhkan meski hanya sesaat. Juga tidak bisa minta diajukan.” [Q.s. al-A’raf: 34]
Karena itu, tanpa terasa, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun berlalu, saat usia kita bertambah, sesungguhnya ajal [tenggat waktu] kita semakin dekat. Karena terus berkurang demi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Rangkaian waktu yang telah kita lalui, meski hanya setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, semenit bahkan sedetik tak akan bisa ditarik kembali. Jika semuanya itu telah pergi, maka umur kita bertambah, tetapi ajal [tenggat waktu] kita semakin dekat.
Ajal kita sudah ditetapkan oleh Allah. Allah pun Maha Tahu kapan ajal kita berakhir. Saat itulah, kematian kan tiba. Kemanapun kita berlari, meski bersembunyi di dalam benteng yang paling kokoh sekalipun, bahkan tak mampu ditembus oleh apapun, tetap saja kematian akan menghampiri kita. Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana pun kamu berada, kematian pasti kan menemukan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” [Q.s. an-Nisa’: 78]
Begitulah, ajal manusia. Pasti tiba. Namun, saat ajal itu tiba, apakah kita sudah siap? Menyiapkan apa yang akan kita bawa menghadap kepada-Nya. Pernahkan kita menghitung berapa lama waktu yang kita gunakan untuk maksiat, dan berapa yang kita gunakan untuk taat? Padahal, kita hitung atau tidak, yang pasti Allah Maha Tahu, dan Malaikat pun telah mencatatnya, sehingga kita pun tak kuasa untuk mengelaknya. [Q.s. Maryam: 93-100]
Andai saja Allah memberikan umur kepada kita 60 tahun, tiap hari kita gunakan bekerja selama 8 jam, maka kita telah menghabiskan 20 tahun umur kita untuk bekerja. Jika 8 jam kita gunakan untuk tidur tiap hari, maka 20 tahun pula umur kita kita habiskan di tempat tidur. Maka, sudah dua pertiga umur kita habis untuk bekerja dan tidur. Sisanya, sepertiga lagi, selama 20 tahun, kita gunakan untuk makan, santai, dan lain-lain. Pertanyaannya, lalu berapa waktu yang kita berikan untuk Allah?
Itulah mengapa al-Junaid bin Muhammad, salah seorang shalihin membaca tasbih sebanyak 30,000 kali. Ketika kematian menjemputnya, beliau sedang membaca al-Qur’an, saat itu sedang sakaratul maut. Putranya yang tengah menungguinya bertanya, “Ayah membaca al-Qur’an, padahal Ayah sedang sibuk menjemput kematian?” Beliau menjawab, “Apakah ada di dunia ini yang lebih membutuhkan amal shalih ketimbang ayah?” Dalam kitabnya, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibn Rajab menuturkan, bahwa Khalid bin Ma’dan membaca tasbih dalam sehari hingga 100,000 kali. Subhanallah, begitulah orang-orang shalih menjaga waktunya.
Iya, hidup adalah rangkaian waktu. Tiap detik, menit, jam dan hari yang hilang telah mengurangi tenggat waktu yang Allah berikan kepada kita. Itu artinya, semakin hari ajal kita semakin dekat. Karena itu, ‘Umar bin al-Khatthab mengingatkan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
“Hitunglah amal perbuatan kalian, sebelum kalian dimintai pertanggungjawab [oleh Allah].”
Maka, rangkaian waktu yang kita lalui lebih berharga ketimbang emas, perak, kedudukan atau apapun yang kita miliki. Jika kita tidak bisa mengisinya dengan benar, sesuai dengan perintah dan larangan Allah, pada akhirnya kita menyesal. Karena perbuatan yang begitu banyak dalam hidup kita, ternyata tak satupun yang diterima oleh Allah SWT. Allah memberikan gambaran itu pada amal perbuatan orang Kafir:
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
“[Orang Kafir] telah bekerja keras lagi kepayahan, tetapi memasuki neraka yang sangat panas.” [Q.s. al-Ghasyiyah: 3-4]
Ketika amal kita diterima oleh Allah, karena kita persembahkan hanya untuk-Nya, dan kita lakukan semata untuk memenuhi perintah dan larangan-Nya, saat itulah kita merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat di dunia. Hidup kita, yang tak lain merupakan rangkaian waktu itu menjadi begitu bermakna. Begitu pun saat kita menghadap-Nya, semua yang kita lakukan bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Bahkan, kita pun dirindukan-Nya.
Seperti itulah yang dialami Sa’ad bin Mu’adz, sahabat Nabi yang mulia. Umurnya tidak panjang, hanya sekitar 30 tahunan. Dalam waktu yang tidak kurang dari 6 tahun, dia habiskan waktunya untuk Islam, dia berikan segalanya untuk Allah dan Rasul-Nya, saat ajal menjemputnya, Allah pun memberikan kemuliaan yang tiada tara.
Kematiannya dirindukan oleh Allah, membuat singgasana-Nya bergoncang.
Abu Hurairah juga demikian. Beliau ditakdirkan Allah hanya bersama Nabi saw. tidak kurang dari 3 tahun. Tetapi, dalam waktu 3 tahun itu, beliau gunakan untuk Islam. Lihatlah, tidak kurang dari 4 karung hadits Nabi dia berhasil kumpulkan. Dia gunakan malamnya, saat orang lain lelap dalam tidur, untuk belajar dan menghapal. Itulah umur dan waktu yang berkah dalam kehidupan. Tidak banyak dan tidak panjang, tetapi di sana Allah berikan kebaikan yang berlimpah.
Maka, Allah pun memberikan kesempatan emas itu kepada kita, jika kita sadar. Dengan shalat berjamaah, nilai sekali shalat kita akan dilipatgandakan menjadi 27 kali. Artinya, jika dalam sehari semalam kita shalat rawatib 5 kali, ditambah 12 kali shalat sunahnya, hanya bisa mengumpulkan 17 point, namun dengan shalat berjamaah, point kita bertambah, menjadi 152 point. Berarti sehari, point kita sama dengan 8-9 hari. Belum lagi, jika itu semua dilakukan di masjid, maka tiap langkah kaki kita akan merontokkan dosa kita.
Dengan shalat di Masjid Nabawi, tiap shalat kita mendapatkan 1000 point. Jika kita bisa meraih 152 point di luar Masjid Nabawi, maka di masjid Nabi ini kita bisa mendapatkan 152,000 point. Itu artinya, nilai kita sehari beribadah di sana, sama dengan 24 tahun. Lalu bagaimana kalau itu kita lakukan di Masjidil Haram? Maka, point yang kita peroleh sama dengan 2,483 tahun. Subhanallah.
Dengan shalat Dhuha tiap pagi, kita pun menutup 360 sendi, yang harus kita tutup dengan sedekah. Mulai dari mengeluarkan kata-kata yang baik, membantu orang yang membutuhkan, memberi minum orang lain, membuang duri di jalan, dan sebagainya. Semuanya itu, ternyata Allah cukupkan dengan mengerjakan shalat Dhuha, 8 rakaat. Bahkan, dengannya Allah menjamin akan mencukupkan semua urusan kita di hari itu. Allah Akbar.
Begitu juga dengan dakwah, menyampaikan hidayah kepada seseorang. Ketika orang tersebut mendapatkan hidayah Allah, dari yang asalnya non-Muslim menjadi Muslim, yang asalnya tidak shalat kemudian akhirnya rajin mengerjakan shalat, yang asalanya tidak berhijab menjadi berhijab dan taat, maka orang yang mengantarkan mereka mendapatkan hidayah itu diganjar oleh Allah dengan kebaikan yang tak terhingga. Lebih baik daripada terbitnya matahari dan bulan. Allah Akbar.
Begitulah Allah memberikan jalan, agar umur, waktu dan hidup kita menjadi berkah. Tiap rangkaian waktu kita lalui dengan penuh hikmah. Tiap detik, menit, jam dan hari yang hilang dari kita, dilipatgankan oleh Allah kebaikannya, karena berkah. Berkah, karena tiap rangkaian waktunya merupakan bentuk pengabdian hamba kepada Rabb-Nya. Saat ajal yang pasti itu tiba, kita pun menghadap-Nya dengan senyuman. Begitulah jiwa orang-orang Mukmin yang shalih dan shalihah:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ اِرْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ!
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah menghadap kepada Rabb-Mu dengan penuh kerelaan, dan mendapatkan ridha [dari-Nya]. Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” [Q.s. al-Fajr: 27-30]
Ya Allah, berkatilah umur dan waktu kami. Ya Allah, terimalah amal kami. Jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang ketika ajal kami tiba, termasuk hamba-hamba-Mu yang menghadap kepada-Mu dengan khusnul khatimah. Dengan penuh kerelaan dan mendapatkan ridha-Mu. Amin.. amin.. amin ya Mujibas Sailin.[]
Hidup adalah rangkaian waktu. Waktu demi waktu terangkai menjadi satu, diberikan kepada setiap manusia sebagai ajal. Iya, itulah tenggat waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, setiap umat, kaum dan manusia mempunyai ajal, tenggat waktu. Ketika tenggat waktu yang diberikan telah berakhir, maka tak satupun yang bisa meminta ditangguhkan. Begitu juga ketika tenggat waktu itu belum tiba, maka ia pun tak bisa diajukan, meski hanya sesaat. Itulah ajal manusia.
Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai ajal [tenggat waktu]. Ketika tiba ajal mereka, maka mereka tidak bisa meminta ditangguhkan meski hanya sesaat. Juga tidak bisa minta diajukan.” [Q.s. al-A’raf: 34]
Karena itu, tanpa terasa, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun berlalu, saat usia kita bertambah, sesungguhnya ajal [tenggat waktu] kita semakin dekat. Karena terus berkurang demi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Rangkaian waktu yang telah kita lalui, meski hanya setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, semenit bahkan sedetik tak akan bisa ditarik kembali. Jika semuanya itu telah pergi, maka umur kita bertambah, tetapi ajal [tenggat waktu] kita semakin dekat.
Ajal kita sudah ditetapkan oleh Allah. Allah pun Maha Tahu kapan ajal kita berakhir. Saat itulah, kematian kan tiba. Kemanapun kita berlari, meski bersembunyi di dalam benteng yang paling kokoh sekalipun, bahkan tak mampu ditembus oleh apapun, tetap saja kematian akan menghampiri kita. Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana pun kamu berada, kematian pasti kan menemukan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” [Q.s. an-Nisa’: 78]
Begitulah, ajal manusia. Pasti tiba. Namun, saat ajal itu tiba, apakah kita sudah siap? Menyiapkan apa yang akan kita bawa menghadap kepada-Nya. Pernahkan kita menghitung berapa lama waktu yang kita gunakan untuk maksiat, dan berapa yang kita gunakan untuk taat? Padahal, kita hitung atau tidak, yang pasti Allah Maha Tahu, dan Malaikat pun telah mencatatnya, sehingga kita pun tak kuasa untuk mengelaknya. [Q.s. Maryam: 93-100]
Andai saja Allah memberikan umur kepada kita 60 tahun, tiap hari kita gunakan bekerja selama 8 jam, maka kita telah menghabiskan 20 tahun umur kita untuk bekerja. Jika 8 jam kita gunakan untuk tidur tiap hari, maka 20 tahun pula umur kita kita habiskan di tempat tidur. Maka, sudah dua pertiga umur kita habis untuk bekerja dan tidur. Sisanya, sepertiga lagi, selama 20 tahun, kita gunakan untuk makan, santai, dan lain-lain. Pertanyaannya, lalu berapa waktu yang kita berikan untuk Allah?
Itulah mengapa al-Junaid bin Muhammad, salah seorang shalihin membaca tasbih sebanyak 30,000 kali. Ketika kematian menjemputnya, beliau sedang membaca al-Qur’an, saat itu sedang sakaratul maut. Putranya yang tengah menungguinya bertanya, “Ayah membaca al-Qur’an, padahal Ayah sedang sibuk menjemput kematian?” Beliau menjawab, “Apakah ada di dunia ini yang lebih membutuhkan amal shalih ketimbang ayah?” Dalam kitabnya, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibn Rajab menuturkan, bahwa Khalid bin Ma’dan membaca tasbih dalam sehari hingga 100,000 kali. Subhanallah, begitulah orang-orang shalih menjaga waktunya.
Iya, hidup adalah rangkaian waktu. Tiap detik, menit, jam dan hari yang hilang telah mengurangi tenggat waktu yang Allah berikan kepada kita. Itu artinya, semakin hari ajal kita semakin dekat. Karena itu, ‘Umar bin al-Khatthab mengingatkan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
“Hitunglah amal perbuatan kalian, sebelum kalian dimintai pertanggungjawab [oleh Allah].”
Maka, rangkaian waktu yang kita lalui lebih berharga ketimbang emas, perak, kedudukan atau apapun yang kita miliki. Jika kita tidak bisa mengisinya dengan benar, sesuai dengan perintah dan larangan Allah, pada akhirnya kita menyesal. Karena perbuatan yang begitu banyak dalam hidup kita, ternyata tak satupun yang diterima oleh Allah SWT. Allah memberikan gambaran itu pada amal perbuatan orang Kafir:
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
“[Orang Kafir] telah bekerja keras lagi kepayahan, tetapi memasuki neraka yang sangat panas.” [Q.s. al-Ghasyiyah: 3-4]
Ketika amal kita diterima oleh Allah, karena kita persembahkan hanya untuk-Nya, dan kita lakukan semata untuk memenuhi perintah dan larangan-Nya, saat itulah kita merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat di dunia. Hidup kita, yang tak lain merupakan rangkaian waktu itu menjadi begitu bermakna. Begitu pun saat kita menghadap-Nya, semua yang kita lakukan bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Bahkan, kita pun dirindukan-Nya.
Seperti itulah yang dialami Sa’ad bin Mu’adz, sahabat Nabi yang mulia. Umurnya tidak panjang, hanya sekitar 30 tahunan. Dalam waktu yang tidak kurang dari 6 tahun, dia habiskan waktunya untuk Islam, dia berikan segalanya untuk Allah dan Rasul-Nya, saat ajal menjemputnya, Allah pun memberikan kemuliaan yang tiada tara.
Kematiannya dirindukan oleh Allah, membuat singgasana-Nya bergoncang.
Abu Hurairah juga demikian. Beliau ditakdirkan Allah hanya bersama Nabi saw. tidak kurang dari 3 tahun. Tetapi, dalam waktu 3 tahun itu, beliau gunakan untuk Islam. Lihatlah, tidak kurang dari 4 karung hadits Nabi dia berhasil kumpulkan. Dia gunakan malamnya, saat orang lain lelap dalam tidur, untuk belajar dan menghapal. Itulah umur dan waktu yang berkah dalam kehidupan. Tidak banyak dan tidak panjang, tetapi di sana Allah berikan kebaikan yang berlimpah.
Maka, Allah pun memberikan kesempatan emas itu kepada kita, jika kita sadar. Dengan shalat berjamaah, nilai sekali shalat kita akan dilipatgandakan menjadi 27 kali. Artinya, jika dalam sehari semalam kita shalat rawatib 5 kali, ditambah 12 kali shalat sunahnya, hanya bisa mengumpulkan 17 point, namun dengan shalat berjamaah, point kita bertambah, menjadi 152 point. Berarti sehari, point kita sama dengan 8-9 hari. Belum lagi, jika itu semua dilakukan di masjid, maka tiap langkah kaki kita akan merontokkan dosa kita.
Dengan shalat di Masjid Nabawi, tiap shalat kita mendapatkan 1000 point. Jika kita bisa meraih 152 point di luar Masjid Nabawi, maka di masjid Nabi ini kita bisa mendapatkan 152,000 point. Itu artinya, nilai kita sehari beribadah di sana, sama dengan 24 tahun. Lalu bagaimana kalau itu kita lakukan di Masjidil Haram? Maka, point yang kita peroleh sama dengan 2,483 tahun. Subhanallah.
Dengan shalat Dhuha tiap pagi, kita pun menutup 360 sendi, yang harus kita tutup dengan sedekah. Mulai dari mengeluarkan kata-kata yang baik, membantu orang yang membutuhkan, memberi minum orang lain, membuang duri di jalan, dan sebagainya. Semuanya itu, ternyata Allah cukupkan dengan mengerjakan shalat Dhuha, 8 rakaat. Bahkan, dengannya Allah menjamin akan mencukupkan semua urusan kita di hari itu. Allah Akbar.
Begitu juga dengan dakwah, menyampaikan hidayah kepada seseorang. Ketika orang tersebut mendapatkan hidayah Allah, dari yang asalnya non-Muslim menjadi Muslim, yang asalnya tidak shalat kemudian akhirnya rajin mengerjakan shalat, yang asalanya tidak berhijab menjadi berhijab dan taat, maka orang yang mengantarkan mereka mendapatkan hidayah itu diganjar oleh Allah dengan kebaikan yang tak terhingga. Lebih baik daripada terbitnya matahari dan bulan. Allah Akbar.
Begitulah Allah memberikan jalan, agar umur, waktu dan hidup kita menjadi berkah. Tiap rangkaian waktu kita lalui dengan penuh hikmah. Tiap detik, menit, jam dan hari yang hilang dari kita, dilipatgankan oleh Allah kebaikannya, karena berkah. Berkah, karena tiap rangkaian waktunya merupakan bentuk pengabdian hamba kepada Rabb-Nya. Saat ajal yang pasti itu tiba, kita pun menghadap-Nya dengan senyuman. Begitulah jiwa orang-orang Mukmin yang shalih dan shalihah:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ اِرْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ!
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah menghadap kepada Rabb-Mu dengan penuh kerelaan, dan mendapatkan ridha [dari-Nya]. Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” [Q.s. al-Fajr: 27-30]
Ya Allah, berkatilah umur dan waktu kami. Ya Allah, terimalah amal kami. Jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang ketika ajal kami tiba, termasuk hamba-hamba-Mu yang menghadap kepada-Mu dengan khusnul khatimah. Dengan penuh kerelaan dan mendapatkan ridha-Mu. Amin.. amin.. amin ya Mujibas Sailin.[]
Minggu, 22 Mei 2016
Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
Oleh: Dwi Boediyanto (Kabid. Pelatihan dan Dakwah PW IKADI Yogyakarta).
Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saat dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang *_resign_* darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? *Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah.* Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. *Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.*
Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan _resign_ dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat _‘kemaruk’_ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. _Na’udzubillahi min dzalik._
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan *‘resign’* tanpa pamitan.
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir ( _driver_ ) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.
Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin. []
*semoga bermanfaat..
Senin, 25 April 2016
Inspirasi dakwah Abah Qayyum
Suara, retorika dan gaya penyampaian ceramah Abah Qayyum terdengar dan terlihat mirip almarhum KH Zainudin MZ. Pilihan katanya tegas, sederhana, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Begitu juga ketika berorasi dalam acara silaturahim keluarga besar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Malang, Ahad (16/9) di Pondok Pesantren Sabilul Huda, Kedung Kandang, Malang, Jawa Timur, dengan bahasa yang mudah dimengerti ia memaparkan konsekuensi ketika syariah Islam tidak diterapkan.
"Pada saat dicampakkannya Islam, maka hukum yang dijalankan oleh para penguasa adalah hukum laut yang dipindahkan ke darat. Paus makan hiu, hiu makan tongkol, tongkol makan teri. Yang paling susah adalah teri, harus makan apa? Teri itu masyarakat umum termasuk kita," ungkap ulama yang bernama resmi KH Abdul Qayyum dengan gaya yang mirip Zainuddin MZ di hadapan sekitar 2000-an ulama.
Maklum saja dai yang cukup piawai dan biasa berceramah di depan sekitar 2000-3000 peserta tablig akbar di berbagai kota dan desa Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, pada tahun 1990-an, memang muridnya Zainuddin MZ. Pada waktu yang bersamaan, ia juga belajar qiraah pada pakar qiraah internasional Muammar ZA selama 2 tahun di Lembaga Pendidikan Tilawatil Qur'an (LPTQ), Jakarta.
Saat ini aktif berdakwah dengan mengangkat isu sentral penegakan syariah dan khilafah. Penerapan syariah secara kaffah tentu membutuhkan sebuah institusi negara Islam yang disebut khilafah. Dan, ini harus ditegakkan melalui amal jama'i. Amal jama'i ini ada pada Hizbut Tahrir.
Menurutnya, dunia tanpa Hizbut Tahrir tidak akan tercipta generasi yang sanggup secara konsisten untuk menegakkan syariah dan khilafah."Tegaknya syariah dan khilafah adalah kunci segala-galanya. Karena saya tidak kuat mikul sendiri, ya saya berjamaah bersama Hizbut Tahrir," kata lelaki kelahiran Malang, 1 Januari 1966 tersebut.
Padahal dua tahun sebelum intensif berjuang bersama Hizbut Tahrir, ia sangat membenci Hizbut Tahrir. Di benaknya penuh dengan persepsi yang buruk tentang Hizbut Tahrir. Ini terjadi karena ia hanya mendengar informasi tentang partai Islam ideologis internasional tersebut dari sumber yang tidak representatif alias qiila wa qaala, atau "katanya bin katanya".
Sehingga tafsir yang digunakannya adalah fathul jare (baca jare dalam logat Jawa yang berarti katanya) bukan Kitab Fathul Bari. Isinya tentu negatif semua. "Islam anti kekerasan tapi mengapa HT sering demo, apa yang didemo? Bukankah demo menjadi representasi dari kekerasan?" kata Abah Qayyum mencontohkan.
Seiring kecamuk pertanyaan, tak disangkanya pada tahun 2008, tiba-tiba seorang aktivis HTI Malang Abu Ridha berkunjung ke rumahnya. Abu Ridha pun memperkenalkan HizbutTahrir dan meminta dukungan dalam penegakan syariah dan khilafah.
Sejak saat itu, Abah Qayyum secara rutin mendapatkan berbagai terbitan Hizbut Tahrir seperti buletin al-Islam, tabloid Media Umat, dan majalah al-Waie. Namun tidak satu pun pemberian aktivis HT tersebut yang dibaca lantaran persepsi buruk tentang Hizbut Tahrir kuat melekat di benaknya. Obrolan tentang syariah dan khilafah pun ditanggapinya dengan sambil lalu.
Melihat keistiqamahan Abu Ridha yang rajin bersilaturahmi dan memberikan berbagai bacaan itu, muncul juga rasa penasaran. Akhirnya ia pun secara serius bertanya tentang syariah dan khilafah.
Penjelasan yang disampaikan terasa ada kesesuaian dengan apa yang diinginkannnya, terlebih disampaikan dengan tenang, tanpa emosi dan berlandaskan pada dalil.
Namun Abah Qayyum belum luluh. Sepulang aktivis HTI tersebut, ia langsung mengumpulkan kembali berbagai terbitan HTI terutama buletin Al Islam. Menurutnya, ini kesempatan untuk mencari kesalahan-kesalahan sebagai pembenar opini yang selama ini diterima. "Namun, semakin lama saya mencari kesalahan, semakin terpaut hati untuk membenarkan apa yang diperjuangkan oleh HT," katanya penuh heran.
“Selama 14 tahun nyantri di pesantren memang mendengar istilah khilafah dan khalifah. Tetapi ia tidak pernah mendapatkan pengajaran secara khusus tentang khilafah harus begini, khalifah harus begitu, termasuk hukum yang harus diterapkan itu ini kalau tidak diterapkan dampaknya begini, solusinya begitu,” ungkap lulusan tahun 1992 Ponpes Raudlatul U'lum 2 Assanamiyah Ganjaran Gondang Legi, Malang.
Empat Alasan
Sejak saat itu, ia pun mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir. Tentu sambil melihat bagaimana keseriusan para aktivis HT berdakwah. Dari sini, ia menemukan alasan kenapa harus berjuang bersama Hizbut Tahrir dalam penegakan syariah dan khilafah.
Diantaranya, pertama, karena keikhlasan dan kesabarannya. Menurutnya, aktivis HT ikhlas, buktinya mereka tidak ada harapan sedikitpun ketika perjuangan selesai ingin memperoleh jabatan/kedudukan yang ingin diraih.
Kesabaran para aktivisnya juga terlihat dari berbagai kegiatan yang ia ikuti selama ini. Salah satunya ketika ia mengikuti para aktivis HT yang akan melakukan dakwah penyadaran tokoh umat di Lenggok Sono, Malang. Puluhan kilometer harus ditempuh. Jalan rusak, licin, gelap, dan menanjak. Tiba-tiba mobil tua yang ditumpangi ngadat. Tenggorokan kering sudah, badanpun terasa lemah.
Dengan penuh kesabaran, mereka memperbaiki hingga perjalanan bisa dilanjutkan. "Saya berpikir, dakwah ini tidak ada yang membayar, tidak dapat beras, dan transportasi ditanggung sendiri. Kenapa mereka masih mau melakukan? Ini yang membuat saya semakin terkesan," ungkapnya.
Keduo, karena daya juang yang tidak takut risiko. Buktinya, dakwah amar ma'ruf nahi munkar disampaikan pada semua level masyarakat, DPR, eksekutif, legislatif, militer, ulama, hakim, pengusaha, pelajar dan lainnya.
Ketiga, tertarik konsep atau ide yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir. Menurutnya, ide¬-ide yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir adalah ide para al anbiya dalam penegakan kalimat Allah.
Keempat, adanya perasaan malu pada Allah SWT. Menurutnya, Islam sudah diturunkan. Berbagai fasilitas informasi terkait Islam (wajibnya penegakan syariah dan khilafah, red.) sudah diterima dengan landasan yang sharih dan tegas. "Kenapa disuruh berbuat ikhlas tidak mau? Ini yang membuat malu pada diri sendiri,” ungkapnya.
Setelah dua tahun berinteraksi dengan Hizbut Tahrir, ia pun semakin sadar. Banyak perubahan, khususnya terkait bagaimana memandang persoalan umat. Masalah umat ternyata bukan hanya masalah furuiyyah seperti qunut dalam shalat dan tahlil tetapi masalah umat ternyata lebih karena tidak diterapkannya syariah Islam dalam bingkai khilafah.
'Tertundanya kewajiban shalat berefek secara individual. Namun, tertundanya penerapan syariah oleh khilafah akan berdampak pada kehidupan umat secara keseluruhan, baik terkait kebodohan, kemiskinan, kerusakan moral, keterbelakangan, penindasan oleh bangsa penjajah, dan lainnya,” ungkapnya mengutip pernyataan salah seorang aktivis HTI Malang yang menghentak kesadarannya.
Dulu, Abah Qayyum mengira ilmu sudah cukup dan tidak perlu ngaji lagi. Ternyata ini adalah pikiran yang salah dan cupik. Ternyata banyak pemahaman yang harus diluruskan dan diasah."Inilah perlunya halqah,' simpulnya.
Menyadari itu, pada 2010, ia pun menjadi aktivis HT dengan mengikuti kajian rutin sepekan sekali. "Sekarang saya halqah di HT mengkaji kitab Nidzam Al Islam bab terakhir, masru' dustuur," katanya dengan bangga. Nidzam Al Islam adalah kitab pertama dari 24 kitab yang diterbitkan HT untuk diajarkan kepada setiap aktivisnya.
Sehingga dai yang tadinya merasa berdakwah sudah cukup pada masyarakat awam, kini, ia merasa terpanggil untuk berdakwah pada para ulama, yang sejatinya adalah pewaris para nabi tetapi belum turut mendakwahkan penerapan Islam secara total dalam bingkai khilafah.
"Oleh karena itu, saya menghimbau kepada para ulama. Tanamkan sifat malu diri sendiri kepada Allah SWT jika tidak berjuang untuk menegakkan syariah dan khilafah bersama HizbutTahrir," gugahnya.
[www.globalmuslim.web.id]
Kamis, 21 April 2016
KONSEP DAKWAH YANG UNGGUL TERLAHIR DARI SEORANG ULAMA MUSTAQIRRAH DAN PEMIKIR MUSTANIR SERTA POLITIKUS 'ULYA ADALAH PONDASI KOKOH TERWUJUDNYA HARAKAH DAKWAH YANG MENDUNIA
Seringkali ada yang bertanya untuk perbandingan " Di Hizbut Tahrir itu siapa Ulamanya ?" ,
wahai kawan cukuplah perkataan dan perbuatan kami yang mengaji di Hizbut Tahrir menjadi landasan bahwa kami mempunyai banyak ulama yang ikhlas untuk mendakwahkan orang yang tidak terpelajar menjadi orang yang mustannir (Berpikir mendalam dan Cemerlang).
Wahai kawan cukuplah keistiqomahan kami dalam menyampaikan yang haq dan bathil , bahwa kami memiliki Ulama yang ikhlas yang rela mengorbankan waktu , tenaga dan harta untuk menjadikan kami yang tidak mengerti apa-apa , tunduk dalam syariat.
Dan perlu kawan ketahui , bahwa bukan hadirnya Ulama ternama , Artis yang taubat bahkan Tokoh Nasional dibarisan ini , menjadikan kami berada dibarisan terasing ini , tapi kami hadir dibarisan ini , karena ikhlasnya para hamilud dakwah dibarisan ini tanpa melihat siapa yang menyampaikannya, tanpa melihat jabatan apa yang diembannya , tanpa melihat titel apa yang dipakainya , kami berada dalam barisan pejuang Khilafah yang akan melanjutkan Islam.Karena nilai jual dakwah ini bukan terdapat dari Ulama Ternama , Artis yang Taubat atau Tokoh Nasional melainkan karena Ridho Allahlah kami ada disini.
Ada juga yang bertanya
"Amir Hizbut Tahrir Gak Jelas" ,
wahai kawan seharusnya pertanyaannya itu menjadi buah proses berpikir dirimu kawan , jujur kami hanya mengenal namanya saja yaitu Syeikh Atha Abu Rasyatah , tapi lihatlah fakta kawan walaupun kami tidak pernah bertemu dengan Beliau biarlah ketundukkan kami , kami dengar , kami taat menjadikan pergerakkan ini ikhlas dalam berjuang , 1 komando karena landasan kami adalah ketundukkan hukum syara , itulah keyakinan yang seharusnya kaum muslimin miliki , bukankah kita semua tidak pernah berjumpa Rasulullah SAW , tapi kita selalu mencintainya , taat akan perintahnya , karena sekali lagi , hukum Syara'lah yang membuat kami dengar dan kami taat.
Ada juga yang berpendapat
"Mimpi kalian terlalu tinggi"
Wahai kawan jika janji Allah SWT akan tegaknya Khilafah untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah sebuah mimpi , biarlah mimpi itu menjadi peneman tidur kami , karena disaat kami bangun , akan kami perlihatkan bahwa mimpi itu nyata karena ini adalah Janji Allah SWT , maka kawan bangunlah dari tidurmu yang dibuai oleh ketidak percayaan janji Allah SWT.
Akhirnya saya katakan kepadamu kawan atas nama cinta , cukuplah engkau terlalu banyak tanya dan berpendapat karena biarlah maut menjadi pengingathidupmu yang akan engkau pilih untuk terus bertanya tanpa mencari dan untuk terus berpendapat tanpa mengaji , karena ingatlah kawan
" ADA ATAU TIDAKNYA ENGKAU , DAKWAH INI AKAN TERUS BERJALAN , KARENA BUKAN DAKWAH INI YANG BUTUH ENGKAU , TAPI ENGKAULAH YANG BUTUH DAKWAH INI".
#IslamRahmatanLilAlamin
Langganan:
Postingan (Atom)