Rabu, 16 Desember 2015

Dinamika Buletin Al Islam



***
Tak disangka, selembar Al-Islam selalu menjadi sakti manakala yang membaca sedang dalam keadaan patah hati. Ini sudah diakui oleh waktu dan dibuktikan keadaan. Tak perlu risau, karena sudah biasa, cukup hadapi dengan ringan saja. Dan tulisan kali ini hanyalah analisis dagelan yang berpura-pura sebagai penengah yang tapi akan masuk akal. xixixi

Jum’at (4/11) buletin Al-Islam mengeluarkan judul ‘Pepesan Kosong Pilkada Serentak’ yang berisi analisis hasil ramuan dari beragam data dan fakta, dan (seperti yang kita tebak) selalu diakhiri dengan seruan ‘wahai kaum muslim’ dengan ending bahwa khilafah adalah satu-satunya solusi. Ini tidak ada bedanya dengan kontinuitas gaya penulisan seperti biasanya, alur runut yang menjadi khas, dan topik-topik yang selalu kaya literasi. Namun na’as, nasib data akan selalu mentah dikalangan golongan putus cinta, dan benarlah jika saya menganut sabda mbah google:

“Hanya ada dua kemungkinan sebuah analisis ditolak. Pertama, analisis anda salah, kedua, jatuh ditangan remaja alay yang sedang patah hati sehingga terpaksa menjadi salah”

Kemudian munculah feedback yang macam-macam pasca Al-Islam edisi 783 tersebar. Tendensi perebutan kursi parpol memang menjadi sejarah yang paling mengharukan dalam peradaban bumi. Sejarah kelam yang lebih kelam pasca bangsa Viking menghentikan kekejaman, demokrasi telah jauh merekayasa beragam masalah dan membuat onar, ia berlindung dibalik gambling dan kepandiran.

Fakta rahasia buletin Al Islam

Memang, Al Islam bukanlah Tempo dengan gaya penulisan saklek terstandar, namun saya menaruh perhatian pada bulletin yang hanya selembar ini sejak 4 tahun lalu, dan hingga kini selalu menjadi bahan rujukan untuk diskusi bahkan sekedar ngobrol di warung kopi.

Hingga kini ruang yang saya berikan terhadap bulletin Al-Islam masih tetap jembar, beberapa analisis sudah cukup membuat saya puas. Pernah suatu ketika analisis terkait konflik Yaman menuai kecaman yang pada akhirnya memang persis seperti apa yang dikatakan Al-Islam. Pernah suatu ketika analisis terkait jet rusia menuai kecaman yang pada akhirnya memang juga persisi seperti apa yang dikatakan Al-Islam. Pernah suatu ketika prediksi kejatuhan Mursi menuai kecaman yang pada akhirnya memang persis seperti apa yang dikatakan Al-Islam.

Dan fakta menarik terkait Al-Islam ini adalah bahwa Al-Islam akan booming dan semakin banyak dibaca manakala ada dikalangan pembaca sedang patah hati, lalu kebetulan membaca dan lantas berkomentar nyerocos karna linglung. Inilah yang sesungguhnya terjadi, bukan masalah analisis yang ada pada Al-Islam, ini lebih pada kondisi psikis pembaca. Karena bisa dibuktikan bahwa sejak dulu gaya penulisan Al-Islam adalah kolaborasi dari beragam data, dibenturkan dengan fakta dan diproses supaya muncul solusi Islam saja. Resep dapur yang sudah bukan rahasia ini, hingga jum’at kemarin telah melahirkan edisi ke-783. Luar biasa!

Saya berani pastikan bahwa keberlanjutan Al-Islam kedepan tidak akan termakan oleh tendensi yang macam-macam, ia tidak peduli terhadap komentar massa karena Al-Islam tidak punya kepentingan materil dibalik penulisannya. Sehingga analisis akan tetap berani dan tajam, ya, ini tentu akan mengusik siapa saja yang macam-macam terhadap kehidupan.

Para pembaca patah hati

Kita hendaknya lebih khawatir dan peduli terhadap para pemirsa media yang gelagapan dikoyak badai logika yang patah, dibanding pada aktivis dan politisi yang sudah jelas kanan-kirinya. Karena dari kekhawatiran kita yang mendalam ini akan lahir suatu bentuk tindakan untuk lebih mendidik dan membimbing, salah satunya dalam pemahaman terkait bagaimana demokrasi yang jahat dan bertentangan dengan Islam. Maka tugas kita dalam mendidik adalah melenyapkan mantra syirik dengan bunyi:

“kalau umat Islam tidak ikut gambling di pemilu, orang kafir akan jadi pemimpin”
“kita harus berupaya mewarnai parlemen dengan Islam”

Dan tentu akan muncul mantra syirik lain yang diperbaharui. Namun yang pasti, penekanannya adalah pada bagaimana kemungkinan perubahan muncul sementara bangunan sistemnya tetap dipertahankan. Sehingga jelas bahwa masalah yang pokok itu bukanlah warna. Kalau kita berasumsi tugas kita hanyalah mewarnai rumah, mengecat setiap sudut ruangan agar nyaman, sementara bangunan berpondasi roboh, apa gunanya?

Sekelumit contoh di atas hanyalah terkait alur logika yang patah yang jika dijadikan madzhab pergerakan akan menyebabkan patah hati, maka tulisan ini hanya guyonan untuk lebih menyapa dan gayeng lagi dalam berdiskusi. Saya berharap dipertemukan banyak pembaca Al-Islam yang sedang patah hati sehingga saya mampu mengobati lara dengan menghilangkan tendensi. I Love you akhi…

Fanshurna Ya Allah…
Wallahu a’lam.

Aab Elkarimi Elkarimi | aktivis Burjo | Penulis buku Gerakan Menolak Sembrono


Pepesan Kosong HT Versus Pepesan Kosong PKS Piyungan


JIKA panggung dakwah kita ibarat arena peperangan, maka para pengeritik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sedang mempraktikkan strategi yang amat mudah dibaca. Mereka tak sanggup mengenali karakter media sosial, serta di mana letak kekuatan kelompok dakwah ekstraparlemen itu. Jika serangan atas Hizbut Tahrir  terus-menerus gencar di media sosial, maka hasilnya bisa ditebak: Hizbut Tahrir semakin populer di Indonesia. Tak percaya?

000

LELAKI itu berdiri dan menyaksikan arena pertempuran. Ia memandang dua pasukan yang sedang berhadapan. Ia melihat satu pasukan sibuk melancarkan yel-yel untuk menjelek-jelekkan musuhnya. Pasukan yang satu justru diam, bermain dalam tenang, sembari mengamati gerakan lawan, kemudian setia mengawasi angin.

Lelaki itu adalah Sun Tzu (535 SM), seorang strategi perang. Melihat tingkah kedua pasukan itu, ia dengan mudahnya menebak akhir pertempuran itu. Ia melihat pasukan yang menunggu adalah pasukan yang lebih pandai menempatkan posisi. “Pemenangnya adalah pasukan yang menahan diri dari untuk menyerang musuh yang benderanya berdiri dalam posisi sempurna. Mereka tak benar-benar menunggu. Mereka setia mengawasi, sambil menyiapkan banyak ranjau. Inilah seni mempelajari kondisi. “

Dalam strategi Sun Tzu, pengenalan diri dan pengenalan musuh adalah kunci untuk memenangkan pertempuran. Mereka yang sesumbar akan lebih mudah dikalahkan. “Dia yang menang adalah dia yang mengenal musuh maupun dirinya sendiri. Dia yang tidak mengenal musuh tetapi mengenal dirinya sendiri akan sesekali menang dan sesekali kalah; Dia yang tidak mengenal musuh ataupun dirinya sendiri akan beresiko kalah dalam setiap pertempuran.”

Panggung dakwah di Indonesia laksana sebuah arena peperangan. Semua yang berkepentingan dengan umat Islam di Indonesia tengah memainkan posisi yang tengah disorot publik. Seluruh energi publik seakan ‘dipaksa’ untuk menyaksikan orkestra adu strategi serta taktik untuk memperebutkan citra positif di benak seluruh masyarakat.

Tiga hari terakhir, kehebohan di panggung dakwah itu kian memanas. Segera setelah buletin Al Islam yang dikelola Hizbut Tahrir Indonesia menerbikan edisi bertajuk Pepesan Kosong Pilkada Serentak, berbagai kecaman kepadanya secara bertubi-tubi mengalir di media sosial. Yang menarik, kecaman itu justru dilontarkan secara massif oleh mereka yang jelas-jelas beragama Islam.

Berbagai jurus serangan telah dilancarkan. Mulai dari menyebut HTI sebagai utopis, bermimpi, Wahabi, terinfiltrasi Syi’ah, menghantam dengan menyebutnya sebagai benalu di dalam NKRI, dan yang terakhir PKSPiyungan memuat tulisan Pepesan Kosong Hizbut Tahrir yang menyatakan, "Duhai.....sungguh berat perjuangan politik ummat Islam. Harus menghadapi persengkokolan kaum zionis, salibis, komunis, sepilis, syiah, dan hizbuttahrir..."

Strategi serangan ini sejatinya bermuara pada harapan bahwa HTI akan meladeninya. Namun ketika para kader HTI justru diam saja (kecuali yang tulisannya memang 'maut' seperti tulisan Aab Elkarimi dalam menanggapi PKSPiyungan), dan membiarkan para pengeritik itu berbicara sendirian, maka hasilnya akan tertebak.

Boleh jadi, publik akan lebih mengapresiasi sosok yang tenang serta fokus untuk menggapai apa yang hendak dituju. Publik akan lebih peduli pada dia yang diam, tapi setiap gerakannya selalu mengejutkan. Mereka yang sering mencemooh Hizbut Tahrir itu justru tak paham karakter media sosial. Semakin anda membicarakan satu hal, maka semakin populerlah hal tersebut. Semakin anda menyerang Hizbut Tahrir, maka semakin terkenal Hizbut Tahrir di Indonesia.

Proses ini akan berujung pada dua kemungkinan, apakah Hizbut Tahrir akan diterima ataukah dibenci. Sebab alam semesta telah mengajarkan, semakin keras lentingan sebuah bola, maka semakin keras pula pantulannya.

Ketika kader HIzbut Tahrir tak meladeni semua serangan atasnya, maka mereka semakin menunjukkan kematangannya. Mereka mendapatkan kekuatannya lewat simpati publik yang terus mengalir. Ketika ia mengabaikan semua serangan, maka ia menempatkan dirinya pada posisi yang lebih strategis. Ia semakin menyentuh hati publik sebab mengubah semua energi negatif yang mengarah ke dirinya, menjadi energi positif. Inilah yang dimaksimalkannya.

Ada banyak pakar komunikasi di media sosial. Entah kenapa, tak banyak yang memahami bahwa strategi Hizbut Tahrir itu bukanlah strategi pencitraan sebagaimana yang diajarkan dalam kelas-kelas kuliah. Kampanyenya berbiaya murah. Ia tak perlu membayar mahal untuk mengiklankan dirinya, sebagaimana yang dilakukan para calon kepala daerah peserta pilkada langsung.

Pencitraan Hizbut Tahrir ditopang oleh opini publik yang setiap saat membicarakan dirinya, terlepas dari segala pro dan kontra. Jika dipikir-pikir, strategi kampanye seperti ini lebih efektif dari miliaran rupiah iklan televisi dan baliho. Desas-desus tentang konsep dan pemikirannya, yang justru dihembuskan oleh para lawan-lawannya, bisa dikemas menjadi strategi efektif yang semakin mengokohkan namanya. Mereka yang menyerang Hizbut Tahrir melalui media sosial justru tak sadar bahwa serangan itu ibarat energi yang makin mengokohkan posisinya.

Mereka yang menyerang Hizbut Tahrir tak juga bisa mengidentifikasi bahwa kekuatan Hizbut Tahrir adalah pemikiran dan metode dakwahnya. Mereka yang hendak mengalahkan HIzbut Tahrir, pastilah paham bahwa kelompok tersebut sejatinya punya banyak ‘kelemahan’. Tapi kelompok itu justru tak hendak menutupi ‘kelemahan’nya. Ia mengakui ada kelompok dakwah sejenis dirinya yang bergerak dengan jalur kekerasan, misalnya dengan Bom Bali, bom JW Marriot, dan sederet kasus terorisme yang melibatkan umat Islam. Namun ia berhasil menunjukkan kepada orang banyak bahwa dirinya tidak sedang lari dari masalah. Ia bekerja membuat masyarakat memahami kewajiban menegakkan khilafah mestilah ditempuh tanpa kekerasan, meskipun langkah itu belum juga selesai. Positioning-nya beda dengan kelompok dakwah lain yang justru tak menyerukan khilafah karena tak ingin dituduh sebagai teroris.

Nah, bagaimanakah kiat mengalahkan HIzbut Tahrir? Mengacu pada Sun Tzu, pria itu hanya bisa dikalahkan dengan dua cara. Pertama, kenali kekuatannya. Sejauh ini, kaum sekuler bisa memahami kekuatan itu, makanya mereka tak pernah menyerang HIzbut Tahrir di media sosial. Mereka paham watak media sosial, sehingga lebih fokus pada hal-hal besar.

Kedua, kenali kekuatan sendiri, lalu pahami masyarakat. Kata Sun Tzu, “Kita tidak akan bisa menggunakan keuntungan dari alam kecuali bila kita mendapat petunjuk dari penduduk setempat.”

Makanya, jauh lebih baik jika kader Hizbut Tahrir fokus pada segala kelebihan dan kekuatan sendiri, ketimbang menghabiskan energi untuk menyerang individu orang apalagi menyerang sesama kelompok Islam. Temukan cara yang lebih cerdik untuk mengarahkan energi dan menemukan model kampanye efektif yang bisa berbicara lebih nyaring kepada banyak orang tentang harapan besar untuk negeri yang lebih baik.

Diolah dari tulisan Yusron Darmawan

Sabtu, 21 November 2015

Jumlah Besar, Aktivitas Minim



Dalam barisan da'wah ada 3 jenis kriteria:
1. Pengamat.
2. Penikmat. Gerak minim, lebih memposisikan sebagai pendengar bukan pelaku, pionir apalagi pendobrak.
3. Pejuang. Bukan sekedar menggugurkan kewajiban tapi berkorban jiwa raga.
Dampak banyak penikmat:
1. paradigma memperjuangkan Islam kurang pas. Tidak berjual beli dengan Allah. Ilmu untuk ilmu. Bukan untuk melangkah dan berjuang. Taqarrub bukan untuk melangkah dan berjuang.
2. Banyak potensi yang tersiakan padahal beban penerapan Islam tidak bisa ditanggung sebagian orang.
3. Hanya mengejar kepuasan pribadi/intelektual sendiri padahal ilmu yang dimiliki adalah untuk membangkitkan umat dan pendorong kejayaan Islam. BEKAL BERJUANG.
Padahal kalau kita hayati:
-Allah itu Thayyib hanya menerima amal yang Thayyib (Terbaik).
-Islam meminta waktu terbaik bukan sisa
-Islam meminta usia emas bukan usia renta
-Islam meminta harta terbaik
-Islam meminta waktu semangat bukan waktu malas
-Islam meminta semua untuk kelak dibalas dengan Jannah
Kalau ini tidak dilakukan maka akan menjadi Beban bagi orang lain. Bukan pejuang lagi tapi penikmat.
Bagaimana seharusnya?
1. Harus punya niat yang sungguh-sungguh, berazzam yang kokoh untuk menempuh jalan hidup Rasul SAW. Karena sebesar apapun dorongan dari luar tetap kembali pada diri sendiri.
2. Sering-sering menghisab diri. Bertanya dan jawablah sendiri sudah berapa orang yang mendapat hidayah lewat kita dalam sepekan? sudah berapa keluarga yang kita kunjungi dan da'wahi? sudah berapa malam memikirkan Islam? sudah bereaksi seperti apa dalam membela Islam? sudah seberapa optimal memenuhi hak Allah?
--Kita sendiri yang tahu sudah sejauh mana kelalaian kita hingga jangan sampai Allah mencabut nikmat ada dalam Kafilah Da'wah Syariah sehingga kita berkutat dengan masalah, diikat dengan persoalan pribadi. Hingga tidak sempat memperbaiki diri--
Clossing statement:
--Kita perlu terus menjadi orang-orang yang berjuang. Mari kita renungkan siapa yang tidak mengairi sawahnya maka tanamannya akan mati. Lanjutkan aktivitas siang dengan malam. pagi dengan sore. musim hujan dengan kemarau. kemarau dengan musim hujan. Terus berjuang tak lekang oleh waktu--
Fa idzaa faraghta fanshab

Kamis, 12 November 2015

Dakwah Hanya Bisa Dipikul Oleh Generasi Terbaik



Beban berat hanya mungkin dipikul oleh orang yg kuat & hebat. Tugas penting hanya mungkin dijalankan oleh orang pilihan.

Amanah yg utama hanya mungkin dilaksanakan oleh orang yg memiliki keutamaan.

Beban berat, tugas penting, amanah utama & taklif istimewa tak mungkin dipikul oleh orang lemah, sembarangan, berkualitas rendah/ biasa-biasa saja.

Dakwah—apalagi dakwah demi tegaknya syariah & Khilafah—adalah   beban berat, tugas penting, amanah utama & taklif istimewa dari Allah SWT kepada kita.

Dakwah ini hanya akan sukses & berhasil mencapai tujuannya jika diemban oleh orang2 yg kuat & hebat, yg memiliki keutamaan & istimewa; bukan oleh orang-orang yg lemah, sembarangan, berkualitas rendah & biasa-biasa saja.

Dakwah ini hanya mungkin berhasil mewujudkan tujuannya jika diemban oleh orang2sekelas generasi para Sahabat ra.

Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., para Sahabat ra. sbg generasi terbaik terbukti sukses memikul beban dakwah di Makkah hingga berhasil mendirikan Negara Islam di Madinah.

Karena itu, agar sukses dakwah hari ini sama dgn sukses dakwah yg diraih generasi Sahabat pada masa lalu, mau tak mau, para pengemban dakwah hari ini harus meng-copy paste kepribadian (syakhshiyyah) mereka;

baik dalam hal kualitas keimanan dan ketakwaan mereka, keluasan ilmu agama mereka; banyaknya amal shalih mereka; keagungan perilaku dan akhlak mereka; besarnya semangat dan ghirah dakwah mereka; serta luar biasanya pengorbanan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT.

Saat para pengemban dakwah gagal meng-copy paste seluruh keteladanan generasi para Sahabat ini, dipastikan gagal pula dakwah yang mereka lakukan.

Smoga kualitas & kuantitas ibadah/ketaatan kita bisa seperti generasi sahabat minimal mendekatinya...

Smoga istiqomah dalam jalan dakwah yg mulia ini, baarokallohufiikum, SEMANGAT

Cara Kita Melihat Kegagalan



πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Kita seringkali begitu enteng menilai sebuah kegagalan sebagai 'kegagalan', lengkap dengan komentar-komentar yang meremehkan.

Padahal, umumnya kegagalan terjadi setelah terwujudnya sebuah amal. Atau bahkan, kegagalan terjadi setelah teraihnya sekian langkah keberhasilan.

Contoh sederhana, sebuah kesebelasan sepakbola yang dikatakan gagal masuk final, atau gagal menjuarai kejuaraan piala dunia, atau seorang atlit yang dianggap gagal meraih emas di arena olympiade, lalu orang-orang dengan mudah mencibirnya.

Sesungguhnya mereka telah melewati keberhasilan yang sangat jarang mampu dilewati oleh tim atau orang selevel mereka, apalagi orang yang bukan level mereka.

Maka, meskipun raut kesedihan itu terbayang diwajah mereka karena kegagalan saat itu, sebetulnya mereka telah melewati sekian banyak kebahagiaan dari sekian panjang perjalanan hingga berhasil masuk dalam even bergengsi tersebut.

Agenda DAKWAH, jika dipandang dari sisi target-target yang diharapkan, sering berujung pada penilaian 'gagal', atau paling tidak, dinilai 'tidak memuaskan atau belum sesuai harapan'.

Hanya saja, kita sering hanya melihat dari satu sisi saja, padahal, banyak point yang dapat diambil dari sebuah usaha yang belum mencapai target yang diharapkan.

Jika kita perhatikan, dibalik apa yang dikatakan kegagalan pada sejumlah masyru' (proyek) dakwah pada level tertentu, sesungguhnya kita telah melewati sekian banyak capaian dakwah yang sekian puluh tahun lalu masih merupakan khayalan dan impian. Jika obyektif, anda bisa jadi sulit menghitung banyaknya capaian-capaian dakwah yang cukup membanggakan jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Memang, sisi buram selalu saja ada dalam perjalanan dakwah dan tidak boleh pula diingkari. Hanya saja, jika ada sebagian orang begitu fasih menyebutkan satu persatu keburukan dalam agenda dakwah sehingga berpengaruh melemahkan langkah perjalanan, seharusnya kita lebih fasih lagi menyebutkan capaian-capaian dakwah yang dapat menyemangati langkah dalam perjalanan dan menerbitkan optimisme lebih besar.

πŸ’‘πŸ”‘ Layak kita ingat, titik tekan dalam dakwah adalah 'amal' bukan 'hasil' (At-Taubah: 105).

Sebab kalau titik tekannya adalah hasil, maka Nabi Nuh dapat dianggap 'gagal', karena cuma segelintir saja yang bersedia ikut beriman bersamanya setelah 950 tahun berdakwah, bahkan termasuk anak isterinya tidak ikut beriman.

Nabi Zakaria juga dapat dianggap 'gagal' karena justeru dibunuh oleh kaumnya yang dia dakwahi. Ashahbul Ukhdud adalah kelompok yang 'gagal', karena perjuangan mereka berujung di kobaran api membara.

Namun nyatanya, Allah mengabadikan mereka dalam barisan pioner dakwah yang menjadi inspirasi para dai berikutnya.

πŸ’Maka, ketika seorang dai selalu berada dalam arena 'amal' dan 'kerja nyata' sesungguhnya itulah kebehasilannya dalam dakwah. Perkara hasil, itu wewenang Allah yang menetapkan kapan dan dimana dia diberikan.πŸ’

Sering terjadi dalam arena dakwah, kemenangan, Allah tentukan pada tempat dan waktu yang tidak diperkirakan. Namun yang pasti, Allah telah janjikan kemenangan bagi mereka yang berusaha dan beramal.

πŸ”‘ Yang pasti, kemenangan tidak akan Allah berikan kepada mereka yang tidak beramal.
πŸ”‘Juga yang pasti, orang yang berhasil, adalah orang yang pernah gagal dan orang gagal yang sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah berusaha!

Kegagalan yang membuat kita terus bekerja dengan sabar untuk mencari peluang dan berharap kemenangan, jauh lebih mulia ketimbang kemenangan yang membuat kita sombong dan menghentikan langkah.

Bisa jadi, kegagalan merupakan cara Allah agar kita terus berada dalam kebaikan dan kemuliaan beramal seraya terus bersandar kepada-Nya.

Maka, langkah ini tidak boleh berhenti. Tak kan surut kaki melangkah, begitu kata sebait syair nasyid.

Medan amal begitu beragam dan luas terbentang menanti aksi kita. Sebab, surut melangkah karena sebuah agenda yang dianggap gagal, justeru lebih buruk dari kegagalan itu sendiri.

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Allah Dulu, Kemudian Surga



Saat menengok sejarah kehidupan para Sahabat,
kita akan mendapati bahwa mereka adalah orang-
orang yang begitu antusias memenuhi seruan
menjadi penolong agama Allah. Tekad mereka
menjadi pejuang Islam dan pembela akidah telah
nyata tercatat dalam tinta emas sejarah kehidupan
ini.
Abdurrahman Ra’fat al-Basya pernah
mengumpulkan kisah-kisah para Sahabat tadi dalam
sebuah buku yang ia beri judul “65 Manusia Langit”.
Ya, manusia langit. Tidak berlebihan jika sematan
manusia langit ini diberikan kepada mereka sebab
kontribusi para sahabat tadi dalam menolong agama
Allah begitu luar biasa.
Tengoklah kisah Sahabat bernama Al-Bara’ bin
Malik al-Anshary. Mengenai beliau, Umar bin al-
Khaththab ra. bahkan pernah berkata, “Janganlah
kalian tunjuk Al-Bara’ menjadi Amir dalam pasukan
kaum muslim karena dikhawatirkan ia dapat
mencelakakan tentaranya karena ingin terus maju.”
Apa yang disebutkan Umar memang bukan tanpa
alasan. Pada peperangan Yamamah, perang antara
kaum muslim dan pasukan Musailamah al-Kadzdzab,
si nabi palsu, Al-Bara’ bin Malik ditunjuk untuk
menjadi salah satu pemimpin pasukan. Al-Bara’ pun
melihat kaumnya dan menyemangati mereka,
“Wahai semua kaum Anshar, jangan ada seorang pun
dari kalian yang kafir dengan kembali ke Madinah.
Tidak ada Madinah setelah ini bagi kalian. Yang ada
hanyalah Allah, kemudian surga!”
Kaum muslim pun maju hingga membuat Musailamah
dan pasukannya pergi ke sebuah taman yang
kemudian disebut sebagai Taman Kematian. Disebut
demikian karena banyaknya korban yang tewas di
sana pada hari itu. Musailamah dan pasukannya
berlindung di balik tingginya tembok-tembok Taman
Kematian. Mereka juga menutup pintunya sehingga
kaum muslim hanya bisa menyerang mereka dengan
panah. Melihat kesulitan yang dihadapi oleh kaum
muslim, Al-Bara’ kemudian berkata kepada
kaumnya, “Wahai kaumku, letakkanlah aku di atas
perisai. Angkat perisai itu, lalu lemparkanlah aku ke
dalam kebun!”
Sendirian, Al-Bara’ bin Malik dilemparkan masuk ke
dalam benteng. Kemunculan Al-Bara’ yang tiba-
tiba membuat musuh panik. Ia segera mencari jalan
untuk membuka pintu dari dalam, membuat jalan
bagi kaum muslim yang sudah menanti di luar
gerbang. Disebutkan, pada saat itu al-Bara’ bin
Malik terkena lebih dari delapan puluh luka di
tubuhnya. Atas izin Allah, al-Bara’ berhasil
menyelesaikan misinya dan Musailamah al-Kadzdzab
beserta semua pengikutnya tewas.
Membaca kisah ini, saya merinding. Tekadnya
menjadi penolong agama Allah terlihat jelas dalam
aksinya. Semangatnya menyambut ridha Allah
terpampang jelas melalui kata-katanya, “Yang ada
hanyalah Allah, kemudian surga!”
Menutup tulisan singkat ini, semoga apa yang
ditunjukkan oleh Al-Bara’ bin Malik bisa menjadi
teladan bagi kita semua. Tentu, jika kita ingin
mengembalikan kejayaan Islam di muka bumi ini,
kualitas perjuangan kita tak boleh kalah dengan
para Sahabat. Usaha kita menjadi penolong agama
Allah juga tak boleh kalah daripada yang
ditunjukkan oleh para pendahulu kita. Saudaraku,
mari kita ingat, bahwa dalam jalan dakwah ini,
yang ada hanyalah Allah, kemudian surga.

Sabtu, 07 November 2015

Cinta...Maasyaa Allah


Brukk! Untuk ke sekian kali, kepala ustadz muda itu terbentur. Kali ini kepalanya membentur kusen pintu masjid saat ia hendak keluar seusai menunaikan shalat ashar berjamaah. Saat itu, setelah shalat, ia memang agak buru-buru karena harus segera menemui seseorang untuk kepentingan dakwah.

‘Peristiwa biasa’ yang saya saksikan dari jarak kira-kira lima meter itu, entah mengapa, membuat hati saya trenyuh. Saya pun menangis dalam hati. Tidak lain karena ustadz muda yang saya ceritakan kali ini adalah seorang yang buta. Namun, kondisinya yang buta itu tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk senantiasa menunaikan shalat berjamaah di masjid lima kali sehari. Hal itu sudah bertahun-tahun ia jalani, terutama sejak ia mengalami kebutaan permanen sekitar tiga-empat tahun lalu. Saya pun teringat Sahabat Nabi saw. Abdullah bin Ummi Maktum yang juga buta. Ia pun senantiasa shalat berjamaah di masjid karena memang Nabi saw. tidak memperkenankan dirinya shalat di rumah selama ia mendengar azan di masjid.

Sebetulnya, bukan pemandangan itu benar yang membuat hati saya trenyuh. Bukan pula semata-mata karena ustadz muda yang baru beberapa bulan lalu saya kenal itu matanya buta yang membuat saya menangis dalam hati. Lagi pula saya tidak sedang menangisi dia. Sebab, toh dari kata-kata dan sikapnya selama ini, saya tahu ia pun tidak pernah menampakkan kesedihan dan meratapi diri karena kondisinya yang buta itu. Padahal sudah tak terhitung kepalanya terbentur tembok, terantuk batu, terpeleset, terserempet kendaraan di jalanan, bahkan terperosok ke selokan. Itu sudah sering ia alami. Namun, ia selalu menyikapi semua itu dengan kesabaran, bahkan senyuman. Yang membuat saya takjub, semua penderitaan itu justru sering ia alami dalam menjalankan aktivitas dakwahnya; berceramah ke berbagai tempat, mengisi ta’lim, melakukan kontak-kontak dakwah, dll. Sering semua itu ia lakukan dengan berjalan kaki sendirian, tanpa teman yang membantu menuntun dirinya. Semua itu ia lakukan dengan selalu bersemangat, tak kenal lelah, meski ia harus sering-sering meninggalkan anak-istrinya.
Selain berceramah atau mengisi ta’lim, ia mengaku menyisihkan waktu minimal dua jam setiap hari untuk melakukan kontak-kontak dakwah. Itu pun sudah lama ia lakukan. Inilah yang sebetulnya membuat hati ini menangis.

Saya menangis karena dalam kondisi tubuh saya yang sempurna, tidak kekurangan apapun, saya tampaknya belum bisa menyamai apalagi melebihi apa yang sehari-hari dilakukan sang ustadz itu. Jangankan menyisihkan waktu dua jam sehari untuk khusus melakukan kontak-kontak dakwah, bahkan untuk sekadar istiqamah shalat berjamaah lima waktu di masjid pun sulit, terutama zuhur dan ashar, karena boleh jadi masih di perjalanan, di tempat kerjaan ataupun karena hal lain.

Saat saya bertanya, mengapa dalam kondisi semacam itu ia selalu bersemangat berdakwah dan sepertinya tak pernah kenal lelah, ia hanya menjawab dengan satu kata, “Cinta.”

“Maksudnya?” tanya saya lagi.

“Ana melakukan semua ini karena Ana mencintai Islam, mencintai dakwah ini dan mencintai saudara sesama Muslim, terutama mereka yang belum tersentuh hidayah Islam,” jawabnya tegas.

“Kalau bukan karena cinta, Tadz,” lanjutnya kepada saya, “Ana, juga Antum, tak mungkin kan harus capek-capek berdakwah, apalagi dengan kondisi Ana yang cacat seperti ini.”

Cukup rasanya kata-katanya itu menyentakkan kembali kesadaran saya. Saya pun teringat kembali dengan kisah Sahabat Rasululullah saw. yang mulia, Mushab bin Umair ra. Sebelum masuk Islam Mushab ra. adalah seorang pemuda yang biasa hidup dalam kesenangan dan kemewahan. Ia memang berasal dari keluarga kaya-raya di Makkah. Semua itu didukung oleh sosoknya yang memang tegap dan tampan. Pernah orangtuanya membelikan sehelai pakaian seharga 200 dirham. Jika dikonversikan dengan harga sekarang, itu setara dengan Rp 14.075.800,- (Empat belas juta tujuh puluh lima ribu delapan ratus rupiah)! (Catatan: 1 dirham=2.975 gr perak murni=Rp 70.379,-. Sumber: Geraidinar.com, 19/5/2011, pk. 06.30).
Mushab bin Umair ra. kemudian masuk Islam diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya. Saat kedua orangtuanya mengetahui keislamannya, mereka mengurung dan mengikat dirinya di rumah agar tidak bisa kemana-mana. Namun akhirnya, ia bisa melarikan diri ke Abesinia, tentu dengan meninggalkan segala kesenangan dan kemewahan hidup yang selama ini ia reguk. Tak lama kemudian ia kembali ke Makkah. Ia lalu diutus oleh Baginda Rasulullah saw. ke Madinah sebagai duta dakwah Islam. Atas perannyalah sebagian pemuka Arab Madinah diislamkan. Bahkan akhirnya mereka mau menyerahkan kekuasaan mereka kepada Rasulullah saw. hingga beliau sukses mendirikan Daulah Islam di Madinah.

Suatu saat, ketika Baginda Rasulullah saw. duduk-duduk, lewatlah ke hadapan beliau Mushab ra. dengan pakaian yang sudah kumal dan bertambal-tambal. Rasul saw. tampak bersedih dan berlinang airmata menyaksikan pemandangan itu. Sebab, beliau tahu persis bagaimana keadaan Mushab ra. yang hidup serba gemerlap sebelum masuk Islam. Kini, ia meninggalkan semua kemewahan itu karena satu hal: cinta. Begitu besar cintanya pada Islam, dakwah dan kepada sesama Muslim. Demi cinta itu pula ia rela mengorbankan apa saja. Bahkan karena cinta pula ia rela terbunuh di medan perang dengan cara yang amat mengiris hati.

Saat itu, dalam Perang Uhud, saat tentara Islam mengalami kekalahan, dan sebagian dari mereka lari tunggang-langgang, Mushab ra. tetap berdiri dengan gagah di medang perang sambil memegang Bendera Islam. Tiba-tiba musuh menebas salah satu tangannya hingga putus. Bendera itu pun terjatuh. Cepat-cepat ia meraih kembali bendera itu dengan tangannya yang lain. Musuh itu kembali menebas tangannya yang tersisa itu hingga putus. Buru-buru pula ia mendekap bendera itu di dadanya dengan kedua lengannya yang masih berlumuran darah. Namun, sebuah anak panah tiba-tiba menghujam dadanya hingga akhirnya ia tersungkur ke tanah, dan bendera itu pun terjatuh. Akhirnya, ia pun gugur sebagai syuhada.

Saat jenazahnya hendak dikuburkan, ia hanya memiliki selembar kain yang terlalu kecil. Jika kain itu ditarik untuk menutupi wajahnya, kakinya terbuka. Sebaliknya, jika kain itu ditarik untuk menutupi kakinya, wajahnya yang terbuka (Al-Kandahlawi, Fadha’il A’mal, 626-627).

Begitulah Mushab bin Umair ra. Begitulah sosok para pecinta Islam, dakwah dan kaum Muslim. Bagaimana dengan kita?