Oleh: Arief B. Iskandar
Allah SWT berfirman (yang artinya): …Di bawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sementara ayahnya adalah seorang yang shalih (TQS al-Kahfi [18]: 82).
Dalam sebuah riwayat, saat menafsirkan ayat di atas, Utsman bin Affan berkata, bahwa harta simpanan yang dimaksud adalah sebuah lempengan yang terbuat dari emas, yang tertulis padanya (firman Allah SWT):
Aku heran terhadap orang yang memahami kematian, sementara ia banyak tertawa. Aku heran terhadap orang yang memahami bahwa dunia ini fana, sementara ia terus disibukkan oleh dunia itu. Aku heran terhadap orang yang memahami bahwa berbagai perkara telah ditetapkan sesuai takdir-Nya, sementara ia bersedih atas hilangnya perkara-perkara itu. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya Hari Perhitungan, sementara ia terus mengumpul-ngumpulkan harta. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya api neraka, sementara ia terus berbuat dosa. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya surga, sementara ia malah banyak berleha-leha. Aku heran terhadap orang yang memahami bahwa setan itu musuhnya, sementara ia malah selalu menaatinya (An-Nawawi al-Jawi, Nasha’ih al-‘Ibad, 51).
Riwayat senada dituturkan oleh al-Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib, dari Baginda Rasulullah saw. bahwa harta simpanan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah lempengan emas yang tertulis padanya (firman Allah SWT):
Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Sungguh aneh orang yang memahami kematian itu pasti, lalu bagaimana mungkin ia banyak berleha-leha. Sungguh aneh orang yang memahami bahwa neraka itu benar adanya, tetapi bagaimana mungkin dia banyak tertawa. Sungguh aneh orang yang memahami bahwa takdir (qadha’) itu adalah benar, lalu bagaimana mungkin dia banyak bersedih. Sungguh aneh orang yang melihat dunia dari waktu ke waktu (bahwa dunia itu fana), lalu bagaimana ia merasa tenteram dengan dunia itu (Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Penuturan senada juga diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibn al-Mardawaih dan al-Bazzar dari Abu Dzarr al-Ghifari; juga oleh al-Khara’ithi dan Ibn ‘Asakir dari Ibn ‘Abbas ra (Lihat: as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, VI/388)
Ada beberapa ibrah (pelajaran) dari hadis di atas.
Pertama: hadis di atas menegaskan bahwa banyak manusia yang perilakunya sering tidak sesuai dengan pemahamannya. Inilah di antara ciri orang-orang yang berlaku nifaq.
Kedua: boleh jadi ketidaksesuaian perilaku manusia dengan pemahamannya karena ia termasuk orang-orang yang lalai atau terlalaikan. Inilah antara lain ciri dari orang-orang yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Alquran sebagai al-ghafil[un].
Terkait dengan itu, setiap Muslim, misalnya, pasti meyakini kepastian bakal datangnya kematian. Namun, banyak dari mereka seolah tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu, yakni saat ia menghadap kepada Allah SWT. Di sinilah pentingnya kita bukan hanya memahami kematian itu, tetapi juga sering-sering mengingat mati. Sebab, orang yang banyak mengingat mati biasanya akan banyak mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu. Nabi saw. bersabda, ”Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan yang paling banyak mempersiapkan diri (menghadapi kematian itu).” (Harits bin Abi Usamah, II/998).
Lalu terkait dengan dunia (harta), meski setiap Muslim memahami bahwa dunia dan harta itu fana, banyak di antara mereka justru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar dunia (harta) hingga melupakan Allah SWT. Padahal sudah jelas, meski seseorang hartanya banyak, semua itu tak akan pernah ia bawa saat ia masuk ke liang lahat.
Kemudian tentang takdir ataupun qadha’ juga sudah jelas. Semua ketetapan Allah SWT ini mesti diyakini oleh setiap Muslim. Seorang Muslim, misalnya, harus menyadari, bahwa apa yang memang sudah ditakdirkan Allah SWT sebagai rezekinya, pasti akan ia raih. Ia pun mesti memahami, bahwa musibah yang telah ditakdirkan Allah SWT menimpa dirinya pasti tak akan pernah dapat ia tolak. Karena itu memang tak selayaknya ia larut dalam penyesalan dan kesedihan saat ditimpa suatu musibah.
Lalu terkait setan, hal itu juga sudah jelas. Bagi seorang Muslim, setan adalah musuhnya yang sejati dan abadi. Dalam Alquran Allah SWT bahkan menyebut setan itu sebagai ’aduw[un] mubin bagi manusia. Karena musuh, idealnya setan harus ditentang, dilawan dan bahkan diperangi. Karena itu memang aneh jika seorang Muslim malah banyak menaati ajakan setan dan tertipu dengan bujuk-rayunya.
Selanjutnya, terkait dengan surga dan neraka, itu pun sudah jelas. Surga adalah balasan bagi para pelaku ketaatan. Neraka diperuntukkan bagi pelaku kemaksiatan. Yang belum jelas adalah wujud fisik surga dan neraka tersebut karena keduanya bagian dari perkara gaib. Karena tidak tampak secara fisik inilah kebanyakan manusia seolah tak peduli. Akibatnya, mereka banyak melakukan dosa, padahal katanya mereka takut terhadap azab neraka. Sebaliknya, mereka tidak banyak melakukan ketaatan, padahal katanya surgalah yang mereka rindukan.
Memang aneh! Semoga kita tidak demikian.
Wama tawfiqi illa billah. []
Sabtu, 09 Juli 2016
Mayoritas Yang Tercela
Oleh: Arief B. Iskandar
Demokrasi identik dengan suara mayoritas. Suara mayoritas dipuja-puji sebagai suara kebenaran. Bahkan suara mayoritas (rakyat) identik dengan suara tuhan. Demikianlah klaim para pemuja dan penjaja demokrasi.
Namun, berkebalikan dengan demokrasi, Tuhan (Allah SWT) sendiri justru mencela suara mayoritas. Allah SWT mencela mayoritas manusia dalam puluhan ayat-Nya. Pasalnya, mayoritas manusia adalah kafir alias tidak beriman, fasik, tidak berpengetahuan, bodoh, tidak bersyukur, sesat dan menyesatkan, dst. Allah SWT, misalnya, berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang jelas. Tak ada yang mengingkari ayat-ayat itu melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka mengingkar ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkan janji itu? Bahkan mayoritas dari mereka tidak beriman (TQS al-Baqarah [2]: 99-100).
Allah SWT juga berfirman (yang artinya):
Mereka (orang-orang musyrik Makkah) berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepada dia (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah, "Sesungguhnya Allah Mahakuasa menurunkan suatu mukjizat.” Namun, mayoritas mereka tidak mengetahui (TQS al-An’am [6]: 37).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya):
Sekiranya Kami menurunkan malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, lalu Kami mengumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi mayoritas mereka adalah bodoh (TQS al-Anam [6]: 111).
Allah SWT pun dalam banyak ayat-Nya yang lain berfirman di antaranya sebagai berikut (yang artinya):
(Setan berkata), “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati mayoritas mereka bersyukur (taat).” (TQS al-A’raf [7]: 17).
Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir. Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik (TQS al-A’raf [7]: 101-102).
Mayoritas manusia tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa yang mereka kerjakan (TQS Yunus [10]: 35-36).
Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi mayoritas manusia tidak tahu (TQS Yunus [10]: 55).
Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi mayoritas dari mereka tidak bersyukur (TQS Yunus [10]: 60).
Mayoritas dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain) (TQS Yusuf [12]: 106).
Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, "Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku". Sebenarnya mayoritas dari mereka tiada mengetahui yang haq sehingga mereka berpaling (TQS al-Anbiya’ [21]: 24).
Terangkanlah kepada Aku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah kamu mengira bahwa mayoritas mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu) (TQS al-Furqan [25]: 44).
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi mayoritas dari mereka tidak bersyukur (TQS an-Naml [27]: 73).
Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah, "Segala pujian milik Allah." Akan tetapi, mayoritas dari mereka tidak memahami (TQS al-Ankabut [29]: 63).
Katakanlah, "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Mayoritas dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (TQS ar-Rum [30]: 42).
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap mayoritas mereka, kerena mereka tidak beriman (TQS Yasin [36]: 7).
Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui; yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan. Akan tetapi, mayoritas dari mereka berpaling, tidak mau mendengarkan (TQS Fushshilat [41]: 1-4).
Masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah SWT mencela mayoritas atau sebagian besar manusia. Karena itu wajarlah jika Allah SWT mewanti-wanti kita agar tidak ikut-ikutan mengikuti mayoritas manusia karena kita bisa tersesat, bahkan jatuh pada kekufuran. Allah SWT berfirman (yang artinya):
Jika kamu menuruti mayoritas orang-orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6]: 116).
Karena mayoritas manusia tidak beriman, fasik, bodoh, tidak paham berpaling dari kebenaran, sesat dan menyesatkan maka wajar pemimpin pililihan mereka adalah pemimpin yang juga tidak beriman, fasik, bodoh, tidak paham, tersesat, berpaling dari kebenaran, sesat dan menyesatkan serta zalim.
Itulah fakta yang sering kita saksikan dalam sistem demokrasi yang menjadikan suara mayoritas sebagai patokan untuk memilih pemimpin.
Yang tak kalah parah, suara mayoritas itu pula yang menjadi tolok ukur untuk menentukan suatu perkara itu benar atau salah, baik atau buruk, halal atau haram. Jelas, ini bertentangan dengan Islam yang menegaskan bahwa hanya syariahlah yang harus dijadikan patokan untuk menentukan benar-salah, baik-buruk, halal-haram.
Jika demikian masihkah kita ingin tetap mempraktikkan demokrasi dengan suara mayoritasnya yang sesungguhnya banyak dicela di dalam Alquran? []
Menjadi Taqwa Tak Cukup Hanya Dengan Puasa
Oleh: Arief B. Iskandar
Ternyata, untuk bisa menjadi orang bertakwa tak cukup hanya lewat puasa Ramadhan. Di dalam al-Quran ada 6 ayat yang ujungnya diakhiri dengan frasa “la’allakum tattaqun” (agar kalian bertakwa) sebagaimana yang terdapat dalam QS al-Baqarah ayat 183 terkait kewajiban puasa Ramadhan.
Di sini saya hanya akan menyebutkan 4 ayat saja:
1. Ayat yang memerintahkan manusia untuk menyembah (beribadah kepada) Allah SWT. Para ulama memaknai ibadah tak hanya melulu yang bersifat ritual (mahdhah) seperti shalat, puasa, haji, dll; tetapi mencakup semua jenis ketaatan kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan (ghayr mahdhah) seperti dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, hukum, pendidikan, sosial, dll.
Hakikat ubudiah sendiri, menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, mencakup tiga hal:
(1) Seorang hamba menyadari bahwa apa yang ada pada dirinya bukan miliknya, tetapi milik Allah SWT yang kebetulan Dia titipkan kepada dirinya;
(2) Seorang hamba wajib tunduk dan patuh tanpa membantah pada semua perintah Allah SWT tanpa kecuali;
(3) Seorang hamba tidak boleh membuat hukum/aturan apapun di luar hukum/aturan yang telah Allah SWT buat. Mereka hanya berkewajiban menerapkan seluruh hukum/aturan (syariah)-Nya.
Terkait semua itu, Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 21).
2. Ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk menegakkan semua sanksi hukum (hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat), khususnya hukum qishash. Allah SWT berfirman:
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ
يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
(Dalam penegakan hukum qishash itu ada kehidupan bagi kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 179).
3. Ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk menunaikan shaum Ramadhan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
(Hai kaum beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).
4. Ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk hanya mengikuti “jalan lurus”, yakni Islam dan seluruh syariahnya, dan haram mengikuti jalan-jalain lain yang bisa mengakibatkan mereka menyimpang dari ideologi dan sistem Islam. Allah SWT berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Inilah jalanku yang lurus. Karena itu, ikutilah oleh kalian jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain sehingga bisa mengakibatkan kalian tercerai-berai (menyimpang) dari jalan tersebut. Itulah wasiat Allah kepada kalian agar kalian bertakwa (QS al-An'am [6]: 153).
Atas dasar itu, dalam momentum Idul Fitri ini, marilah seluruh umat Islam bersegara menerapkan seluruh syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan di bawah naungan institusi Khilafah 'ala mihaj an-Nubuwwah. Hanya dengan itulah ketakwaan paripurna bisa benar-benar terwujud dalam diri umat.
Marilah kita amalkan ayat berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
(Hai kaum yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara totalitas, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kailan yang amat nyata (QS al-Baqarah [2]: 208).
WalLahu a’lam.
Wa ma tawfiqi illa bilLah []
Taqwa : Simbol Kecerdasan
Oleh: Arief B. Iskandar
Suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melihat seekor burung yang hinggap di sebuah pohon. Sepontan beliau berkata, “Wahai burung, betapa nikmatnya kamu. Kamu makan dan minum, sementara kamu tidak dihisab. Andai saja aku menjadi burung seperti kamu.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, II/345; as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, I/41; Kanz al-‘Umal, XII/528).
*****
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah salah seorang Sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap merasa khawatir akan hisab Allah SWT pada Hari Akhir nanti. Begitu khawatirnya, beliau berandai-andai ditakdirkan menjadi seekor burung agar tidak dihisab oleh Allah SWT. Namun, justru karena kekhawatiran akan hisab Allah SWT itu pula, beliau berusaha menjadi pribadi yang selalu bertakwa.
Berupaya selalu bertakwa tentu adalah pilihan amat cerdas. Sebaliknya, banyak melakukan dosa dan maksiat adalah pilihan sangat bodoh. Itu pula yang dinyatakan oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra., “Inna akyas al-kays at-taqwa wa ahmaq al-humqi al-fujur (Sungguh, kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan yang paling bodoh adalah maksiat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Mengapa demikian? Sebab, takwa akan meringankan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya. Sebaliknya, dosa dan maksiat akan menyulitkan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan dirinya ke dalam azab neraka.
Alhasil, orang cerdas bukanlah orang yang ber-IQ tinggi, atau mempunyai catatan prestasi akademik di bangku kuliah dengan nilai IPK yang mumpuni, atau memiliki gelar akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi bergengsi di dalam atau luar negeri. Orang cerdas adalah orang yang selalu bertakwa kepada Allah SWT; orang yang hidupnya selalu diisi dengan ketaatan kepada Allah SWT, bukan dengan ragam dosa dan kemaksiatan.
Terkait itu, Baginda Nabi saw. pernah bersabda, “Al-Kays man dana nafsahu wa ‘amila li ma ba’da al-mawt, wa al-‘ajiz man atba’a nafsahu hawahu wa tamanna ‘alalLah (Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang lemah [bodoh] adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, al-Baihaqi, al-Hakim dan ath-Thabrani).
Karena itu, meski bergelar doktor sekaligus menduduki jabatan elit dengan gaji di atas 100 juta rupiah, betapa bodohnya jika orang seperti ini masih saja korupsi. Tentu karena ia telah memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu tidak lain adalah segala keinginan atau kecenderungan—dalam wujud ucapan maupun tindakan—yang bertentangan dengan wahyu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidaklah bersumber dari hawa nafsunya, melainkan berasal dari wahyu yang Allah wahyukan kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Ayat ini memang berbicara tentang sifat Rasulullah saw., yang segala ucapan dan tindakannya pasti bersumber dari wahyu, bukan dari hawa nafsu (Abu Bakar al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, III/526).
Namun, dari ayat ini bisa dipahami, bahwa hawa nafsu berlawanan dengan wahyu. Alhasil, segala hal, baik ucapan atau tindakan, yang bertentangan dengan wahyu Allah SWT pasti bersumber dari hawa nafsu. Kata-kata jorok dan kasar, sumpah palsu, ghibah, fitnah (tuduhan keji), berbohong dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Korupsi, suap, memakan riba, merampok, membunuh, mengobral aurat, berzina, menzalimi rakyat, dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Sebab, semua ucapan dan tindakan tersebut berlawanan dengan wahyu. Begitu pun segala kebijakan, hukum atau undang-undang yang berlawanan dengan wahyu; semua itu pasti bersumber dari hawa nafsu. Karena itu siapa saja yang ucapannya dan tindakannya—termasuk kebijakan, hukum maupun undang-undangnya—bertentangan dengan wahyu Allah SWT maka mereka adalah orang-orang yang telah memperturutkan hawa nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang bodoh meski mereka menyandang gelar akademik tinggi dan menduduki jabatan bergengsi.
*****
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melanjutkan pernyataannya, “Wa inna ashdaq ash-shidqi al-amanah wa akdzab al-kadzibi al-khiyanat (Sungguh, kejujuran yang paling jujur adalah sikap amanah, dan kedustaan yang paling dusta adalah sikap khianat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Banyak orang yang tidak suka berbohong alias biasa jujur dalam ucapan, tetapi kadang tak bisa bersikap amanah dalam tindakan. Padahal sikap amanah adalah tanda nyata dari kejujuran seseorang.
Amanah itu banyak. Menjadi Muslim adalah amanah. Menjadi anak atau orangtua adalah amanah. Menjadi suami atau istri adalah amanah. Menjadi guru, dosen, pegawai, buruh, direktur perusahaan, dll adalah amanah. Menjadi pengemban dakwah juga amanah.
Sebagai amanah, semua itu tentu wajib dijalankan sesuai dengan yang dituntut oleh syariah. Melalaikan semua amanah yang memang secara syar’i wajib dijalankan terkategori khianat. Khianat, kata Abu Bakar ash-Shiddiq ra., adalah kedustaan yang paling dusta.
Khianat itu banyak ragamnya, sebanyak sikap mengabaikan amanah. Dalam konteks dakwah, jika seorang pengemban dakwah sering melalaikan aktivitas dakwah—jarang kontak dakwah, enggan menerima taklif-taklif dakwah, dsb—maka ia berarti tidak amanah dalam dakwah. Dengan kata lain ia telah mengkhianati dakwah. Alhasil, meski julukannya ‘pengemban dakwah’, ia hakikatnya adalah ‘pengkhianat dakwah’. Saat ia telah menjadi ‘pengkhianat dakwah’ sesungguhnya ia telah benar-benar melakukan—meminjam Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.—kedustaan yang paling dusta atas klaimnya sebagai pengemban dakwah.
Tentu kita berlindung kepada Allah SWT dari yang demikian. Sebaliknya, kita berharap menjadi pengemban dakwah yang paling jujur dalam berdakwah, yakni yang selalu bersikap amanah dalam dakwah; tidak pernah lalai dalam menjalankan aktivitas dakwah dengan terus melakukan kontak-kontak dakwah, menjalankan taklif-taklif dakwah, dsb.
*****
Alhasil, dengan takwa dan sikap amanah itulah sejatinya kita menjadi orang yang cerdas sekaligus jujur, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. di atas.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. []
Suatu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melihat seekor burung yang hinggap di sebuah pohon. Sepontan beliau berkata, “Wahai burung, betapa nikmatnya kamu. Kamu makan dan minum, sementara kamu tidak dihisab. Andai saja aku menjadi burung seperti kamu.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, II/345; as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, I/41; Kanz al-‘Umal, XII/528).
*****
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah salah seorang Sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap merasa khawatir akan hisab Allah SWT pada Hari Akhir nanti. Begitu khawatirnya, beliau berandai-andai ditakdirkan menjadi seekor burung agar tidak dihisab oleh Allah SWT. Namun, justru karena kekhawatiran akan hisab Allah SWT itu pula, beliau berusaha menjadi pribadi yang selalu bertakwa.
Berupaya selalu bertakwa tentu adalah pilihan amat cerdas. Sebaliknya, banyak melakukan dosa dan maksiat adalah pilihan sangat bodoh. Itu pula yang dinyatakan oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra., “Inna akyas al-kays at-taqwa wa ahmaq al-humqi al-fujur (Sungguh, kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan yang paling bodoh adalah maksiat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Mengapa demikian? Sebab, takwa akan meringankan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya. Sebaliknya, dosa dan maksiat akan menyulitkan pelakunya dari hisab Allah SWT sekaligus memasukkan dirinya ke dalam azab neraka.
Alhasil, orang cerdas bukanlah orang yang ber-IQ tinggi, atau mempunyai catatan prestasi akademik di bangku kuliah dengan nilai IPK yang mumpuni, atau memiliki gelar akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi bergengsi di dalam atau luar negeri. Orang cerdas adalah orang yang selalu bertakwa kepada Allah SWT; orang yang hidupnya selalu diisi dengan ketaatan kepada Allah SWT, bukan dengan ragam dosa dan kemaksiatan.
Terkait itu, Baginda Nabi saw. pernah bersabda, “Al-Kays man dana nafsahu wa ‘amila li ma ba’da al-mawt, wa al-‘ajiz man atba’a nafsahu hawahu wa tamanna ‘alalLah (Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang lemah [bodoh] adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, al-Baihaqi, al-Hakim dan ath-Thabrani).
Karena itu, meski bergelar doktor sekaligus menduduki jabatan elit dengan gaji di atas 100 juta rupiah, betapa bodohnya jika orang seperti ini masih saja korupsi. Tentu karena ia telah memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu tidak lain adalah segala keinginan atau kecenderungan—dalam wujud ucapan maupun tindakan—yang bertentangan dengan wahyu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidaklah bersumber dari hawa nafsunya, melainkan berasal dari wahyu yang Allah wahyukan kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Ayat ini memang berbicara tentang sifat Rasulullah saw., yang segala ucapan dan tindakannya pasti bersumber dari wahyu, bukan dari hawa nafsu (Abu Bakar al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, III/526).
Namun, dari ayat ini bisa dipahami, bahwa hawa nafsu berlawanan dengan wahyu. Alhasil, segala hal, baik ucapan atau tindakan, yang bertentangan dengan wahyu Allah SWT pasti bersumber dari hawa nafsu. Kata-kata jorok dan kasar, sumpah palsu, ghibah, fitnah (tuduhan keji), berbohong dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Korupsi, suap, memakan riba, merampok, membunuh, mengobral aurat, berzina, menzalimi rakyat, dll pasti bersumber dari hawa nafsu. Sebab, semua ucapan dan tindakan tersebut berlawanan dengan wahyu. Begitu pun segala kebijakan, hukum atau undang-undang yang berlawanan dengan wahyu; semua itu pasti bersumber dari hawa nafsu. Karena itu siapa saja yang ucapannya dan tindakannya—termasuk kebijakan, hukum maupun undang-undangnya—bertentangan dengan wahyu Allah SWT maka mereka adalah orang-orang yang telah memperturutkan hawa nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang bodoh meski mereka menyandang gelar akademik tinggi dan menduduki jabatan bergengsi.
*****
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. melanjutkan pernyataannya, “Wa inna ashdaq ash-shidqi al-amanah wa akdzab al-kadzibi al-khiyanat (Sungguh, kejujuran yang paling jujur adalah sikap amanah, dan kedustaan yang paling dusta adalah sikap khianat).” (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VI/353).
Banyak orang yang tidak suka berbohong alias biasa jujur dalam ucapan, tetapi kadang tak bisa bersikap amanah dalam tindakan. Padahal sikap amanah adalah tanda nyata dari kejujuran seseorang.
Amanah itu banyak. Menjadi Muslim adalah amanah. Menjadi anak atau orangtua adalah amanah. Menjadi suami atau istri adalah amanah. Menjadi guru, dosen, pegawai, buruh, direktur perusahaan, dll adalah amanah. Menjadi pengemban dakwah juga amanah.
Sebagai amanah, semua itu tentu wajib dijalankan sesuai dengan yang dituntut oleh syariah. Melalaikan semua amanah yang memang secara syar’i wajib dijalankan terkategori khianat. Khianat, kata Abu Bakar ash-Shiddiq ra., adalah kedustaan yang paling dusta.
Khianat itu banyak ragamnya, sebanyak sikap mengabaikan amanah. Dalam konteks dakwah, jika seorang pengemban dakwah sering melalaikan aktivitas dakwah—jarang kontak dakwah, enggan menerima taklif-taklif dakwah, dsb—maka ia berarti tidak amanah dalam dakwah. Dengan kata lain ia telah mengkhianati dakwah. Alhasil, meski julukannya ‘pengemban dakwah’, ia hakikatnya adalah ‘pengkhianat dakwah’. Saat ia telah menjadi ‘pengkhianat dakwah’ sesungguhnya ia telah benar-benar melakukan—meminjam Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.—kedustaan yang paling dusta atas klaimnya sebagai pengemban dakwah.
Tentu kita berlindung kepada Allah SWT dari yang demikian. Sebaliknya, kita berharap menjadi pengemban dakwah yang paling jujur dalam berdakwah, yakni yang selalu bersikap amanah dalam dakwah; tidak pernah lalai dalam menjalankan aktivitas dakwah dengan terus melakukan kontak-kontak dakwah, menjalankan taklif-taklif dakwah, dsb.
*****
Alhasil, dengan takwa dan sikap amanah itulah sejatinya kita menjadi orang yang cerdas sekaligus jujur, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. di atas.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. []
Agar Tetap Istiqamah Pasca Ramadhan
Oleh: Arief B. Iskandar
Beberapa saat lagi Ramadhan bakal tinggal kenangan. Syawal datang menjelang. Suasana Idul Fitri kini menyertai.
Peralihan bulan ini mengisyaratkan hal yang tidak sama bagi setiap Muslim. Adakalanya seorang Muslim tetap taat baik selama Ramadhan maupun setelah Ramadhan. Ia tetap istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Muslim yang lain ada yang biasa maksiat sebelum Ramadhan, taat saat Ramadhan, tetapi kembali maksiat pasca Ramadhan.
Muslim yang lainnya lagi ada yang bahkan sebelum Ramadhan, selama Ramadhan maupun setelah Ramadhan tetap “istiqamah” dalam kemaksiatan. Saat Ramadhan atau di luar Ramadhan, ia tak ada bedanya.
Yang terbaik tentu saja adalah yang selalu berupaya tetap istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT, saat Ramadhan ataupun di luar Ramadhan.
Masalahnya, bersikap istiqamah tidaklah mudah. Selain karena tarikan hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan, godaan setan juga tak pernah absen menghantam setiap orang.
*****
Seorang Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, ajarilah aku dari Islam ini suatu ucapan yang mana aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelah engkau.”
Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah!” (HR Ahmad).
Ibnu Rajab mengatakan, “Wasiat Nabi saw. ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.” (Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, hlm. 246).
Istiqamah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT, lahir dan batin; meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqamah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali.
Imam an-Nawawi dalam Bahjah an-Nâzhirîn, Syarh Riyâdh ash-Shâlihîn juga berkata, “Para ulama menafsirkan istiqâmah dengan luzûm thâ’atilLâh, artinya tetap konsisten dalam ketaatan kepada Allah SWT.”
Lalu bagaimana agar kita bisa tetap istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT?
Beberapa hal mesti dilakukan.
Pertama: Beriman secara benar dan lurus; menyatu antara keyakinan, ucapan dan tindakan (Lihat: QS Ibrahim [14]: 27).
Kedua: Mengkaji, menghayati dan mengamalkan seluruh isi al-Quran (Lihat: QS an-Nahl [16]: 102; QS al-Furqan [25]: 32).
Ketiga: Menjalankan segala amal dengan ikhlas dan selalu berusaha terikat dengan syariah (QS al-Bayyinah [89]: 5).
Keempat: Banyak menjalankan amal-amal yang sunnah—seperti shalat malam, shaum sunnah, dll—selain tentu konsisten dalam menjalankan berbagai kewajiban.
Kelima: Membaca kisah-kisah orang shalih terdahulu sehingga bisa dijadikan teladan dalam beristiqamah. Dalam al-Quran banyak diceritakan kisah-kisah para nabi, rasul dan orang-orang yang beriman yang terdahulu. Kisah-kisah ini Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah saw. dan tentu orang-orang Mukmin (Lihat: QS Hud [11]: 11). Contohnya kita bisa mengambil kisah tentang sikap istiqamah Nabi Ibrahim as. saat dibakar oleh para penentangnya (QS al-Anbiya’ [21]: 68-70). Ibnu ‘Abbas ra. berkata, “Akhir perkataan Ibrahim as. ketika dilemparkan ke dalam kobaran api adalah, ‘HasbiyalLâhu wa ni’ma al-Wakîl (Cukuplah Allah sebagai Penolong dan sebaik-baik Tempat bersandar).’” (HR al-Bukhari).
Akhirnya, Ibrahim as. pun selamat.
Oleh karena itu, para salafush-shalih sangat senang sekali mempelajari kisah-kisah orang shalih terdahulu untuk diambil sebagai teladan. Basyr bin al-Harits al-Hafi mengatakan, “Betapa banyak orang-orang shalih yang telah wafat membuat hati menjadi hidup saat mengingat mereka.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, II /333).
Imam Abu Hanifah juga amat senang mempelajari kisah-kisah para ulama. Ia berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fikih. Itu karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.” (Al-Madkhal, I/164).
Nu’aim bin Hammad mengatakan, “Ibnu al-Mubarak biasa duduk-duduk sendirian di rumahnya. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah engkau tidak kesepian?” Ibnu al-Mubarak menjawab, “Bagaimana mungkin aku kesepian, sedangkan aku selalu bersama Nabi saw.?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/438).
Maksudnya, Ibnu al-Mubarak tidak pernah merasa kesepian karena biasa sibuk mempelajari jalan hidup Nabi saw.
Keenam: Bergaul dengan orang-orang shalih. Allah SWT menyatakan dalam al-Quran bahwa salah satu sebab utama yang menguatkan para Sahabat adalah keberadaan Rasulullah saw. di tengah-tengah mereka. Allah SWT juga memerintahkan agar kita selalu bersama dengan orang-orang yang baik (Lihat: QS at-Taubah [9]: 119).
Para ulama pun memiliki nasihat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Pandangan seorang Mukmin kepada Mukmin yang lain akan mengkilapkan hati.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 8/435).
Maksudnya, hanya dengan memandang orang shalih saja, hati seseorang bisa kembali tegar.
Ketujuh: Memperbanyak doa kepada Allah SWT agar diberi keistiqamahan. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian (Lihat: QS Ali ‘Imran [3]: 146-148; QS al-Baqarah [2]: 250; QS Ali Imran [3]: 8).
Doa yang paling sering Nabi saw. panjatkan adalah:
يا مقلب القلوب، ثبت قلبي على دينك.
(Duhai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR at-Tirmidzi).
Imam Hasan al-Bashri juga mengajari kita untuk banyak memohon keistiqamahan kepada Allah SWT dengan doa:
اللهم أنت ربنا، فارزقنا الإستقامة
"AlLâhumma Anta Rabbunâ, farzuqnâ al-istiqâmah (Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, berilah kami keistiqamahan).” (Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, hlm. 245).
*****
Alhasil, Ramadhan boleh saja tinggal kenangan. Namun, selayaknya kita tetap menjadi orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT, termasuk dalam berdakwah demi memperjuangkan tegaknya syariah secara kaffah. []
Idhul Fitri : Meraih Kemenangan Hakiki
Oleh: Arief B. Iskandar
Alhamdulillah, sudah selayaknya kita banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah berhasil melewati hari-hari Ramadhan hingga memasuki bagian akhir bulan yang penuh berkah ini.
Kini kita pun segera menyambut satu hari yang indah, Idul Fitri.
Namun, kita pun sepatutnya banyak beristigfar karena boleh jadi—meski ini jelas tidak kita harapkan—ibadah shaum pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa sebagai hikmah dari kewajiban puasa yang telah Allah titahkan kepada kita sepanjang bulan suci ini.
Karena itu sejatinya kita banyak bertafakur dan melakukan muhâsabah (instrospeksi diri): Layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri, yang sering dimaknai sebagai ‘kembali ke fitrah’ dan juga sebagai ‘hari kemenangan’?
Pertanyaan ini penting kita jawab dengan jujur, agar kita meninggalkan bulan Ramadhan ini tanpa kesia-siaan serta merayakan Idul Fitri nanti tanpa kehampaan, terutama jika dikaitkan dengan penegasan ulama:
ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته تزيد أو تقواه يزيد.
(Idul Fitri itu bukan milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang baru. Namun, Idul Fitri itu milik orang yang ketaatannya atau ketakwaannya bertambah).
ليس العيد لمن لبس الجديد و لكن العيد لمن أمن الوعيد (علي كره الله وجهه)
Bukanlah ied itu bagi yang mengenakan baju baru. Tapi bagi mereka yang mengimani hari yang dijanjikan (akhirat)" (Imam 'Ali bin Abi Thalib)
Ditanyakan pada sebagian ulama salafus shalih, "Kapankah kalian berhari raya?”
Mereka menjawab, “Pada hari kami tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Itulah hari raya kami. Hari raya itu bukan bagi orang-orang yang memakai pakaian kebesaran, tetapi bagi mereka yang mengimani azab akhirat. Bukan pula hari raya itu bagi mereka yang mengenakan pakaian yang indah, tetapi untuk mereka yang mengetahui jalan (Islam).” (Al-Kasykul, 1/82).
Kembali ke Fitrah
Idul Fitri sering diterjemahkan sebagai ‘kembali ke fitrah’. Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabî‘ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia. (Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).
Karena itu secara bahasa Idul Fitri bisa diterjemahkan sebagai ‘kembali ke naluri/pembawaan yang asli. Di antara naluri/pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama/religiusitas (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Mahaagung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan.
Karena itulah, secara fitrah, manusia akan selalu membutuhkan agama yang menuntun dirinya melakukan penyembahan (‘ibâdah) terhadap Tuhannya dengan benar. Itulah Islam sebagai satu-satunya agama dari Allah, Tuhan yang sebenarnya.
Konsekuensinya, sesuai dengan fitrahnya pula, manusia sejatinya senantiasa mendudukkan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhannya, Allah SWT, Pencipta manusia.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kembali ke fitrah—sebagai esensi dari Idul Fitri—adalah kembalinya manusia dalam kedudukannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah sebagai Tuhannya.
Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah, mesti menyadari bahwa: (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.
Membuang Sekularisme: Wujud Kembali ke Fitrah
Dengan memaknai kembali ke fitrah sebagai ‘kembali pada kesadaran sejati sebagai seorang hamba’, sudah sepatutnya kaum Muslim yang ber-Idul Fitri membuang jauh-jauh sekularisme. Mengapa? Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dalam kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan. Pasalnya, sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang hanya mengakui Tuhan dari sisi eksistensi (keberadaan)-Nya saja, tidak mengakui otoritas (kewenangan)-Nya untuk mengatur manusia.
Dengan kata lain, sekularisme hanya mengakui keberadaan agama, tetapi menolak kewenangan agama untuk mengatur kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, hak mengatur manusia atau hak membuat aturan bagi kehidupan manusia mutlak ada pada manusia itu sendiri, bukan pada Tuhan/agama. Hak ini kemudian mereka wujudkan dalam sistem demokrasi, yang menempatkan kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat) di atas kedaulatan Tuhan.
Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Saat ini, justru Kapitalismelah—dan bukan Islam—yang diterapkan di tengah-tengah kehidupan umat Islam saat ini, termasuk di negeri ini.
Padahal fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, banyak kerusakan, dan banyak kekacauan. Itulah yang terjadi seperti saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada manusia (rakyat) melalui mekanisme demokrasi. Mahabenar Allah yang berfirman:
]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).
Karena itu, perayaan Idul Fitri—yang dimaknai sebagai kembali ke fitrah itu—sudah sepatutnya dijadikan momentum untuk membuang sekularisme karena memang menjauhkan manusia dari fitrahnya yang hakiki sebagai hamba Allah.
Hari Kemenangan
Idul Fitri juga sering disebut sebagai hari kemenangan. Artinya, kaum Muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah shaum selama Ramadhan dianggap sebagai kaum yang meraih kemenangan. Persoalannya, shaum seperti apa yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi kaum yang menang? Tentu shaum yang berkualitas, sebagaimana yang dilakoni oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat.
Shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama bulan Ramadhan, tetapi juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam.
Mereka dan generasi gemilang sesudahnya, misalnya, justru sering mencatat prestasi yang gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fath Makkah, atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.
Kemenangan Perang Badar telah memperkuat posisi kaum Muslim di dunia internasional saat itu, terutama di Jazirah Arab; bahwa negara baru yang dibangun kaum Muslim, Daulah Islam, adalah negara kuat yang tidak bisa disepelekan. Kondisi ini tentu memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara Daulah Islam.
Bandingkan dengan kondisi kaum Muslim saat ini. Negeri-negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara kecil yang lemah. Kondisi ini membuat musuh-musuh Allah dengan gampang dan sombong membantai dan membunuh kaum Muslim serta mengekspolitasi kekayaan alamnya dengan rakus; tanpa ada pelindung sama sekali.
Perang Badar juga secara internal telah membuat pihak-pihak di dalam negeri Daulah Islam—orang-orang Yahudi, musyrik dan munafik—takut untuk berbuat macam-macam terhadap Daulah Islam.
Bandingkan dengan keberadaan orang-orang kafir dan antek-antek Barat saat-saat ini di Dunia Islam. Mereka berbuat makar dan kekejian seenaknya. Di negeri-negeri Islam, orang-orang kafir yang didukung oleh para penguasa yang menjadi antek-antek penjajah, membuat berbagai kebijakan yang merugikan rakyat.
Futûhât juga telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Lewat futûhât ini dakwah Islam diterima dengan mudah oleh manusia. Futûhât ini juga telah menjadi jalan bagi diterapkannya syariah Islam di seluruh kawasan dunia. Lewat penerapan syariah Islam inilah seluruh warga negera Daulah Islam, baik Muslim maupun non-Muslim mendapat kebahagian, kesejahteraan, dan keamanan. Peradaban Islam pun kemudian menjadi peradaban unggul.
Karena itu, ada beberapa hal yang wajib kita teladani dari shaum generasi Sahabat ini.
Pertama: para Sahabat tidak hanya melakukan tadarus al-Quran (baik di bulan Ramadhan maupun di luar itu), tetapi juga mengamalkannya. Sebab, para Sahabat memahami, bahwa membaca al-Quran adalah sunnah, sementara menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka adalah wajib. Mereka sangat menyadari bahwa al-Quran harus menjadi dasar konstitusi kaum Muslim.
Kedua: para Sahabat tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah. Tidak berdusta, tidak berbuat batil, tidak membuat kerusakan, dan tentu saja tidak berhukum pada selain hukum Allah Swt. Mereka tidak seperti kaum Muslim saat ini, yang justru masih berhukum pada perundang-undangan dan sistem kufur yang bersumber dari sekularisme.
Terakhir: para Sahabat telah nyata-nyata menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat. Tobat mereka adalah tawbah nasûhâ, tobat yang sebenar-benarnya. Cirinya: menyesali segala dosa yang dilakukan, tidak mengerjakannya lagi, dan beramal salih untuk menghapus dosa yang lalu.
Seharusnya saat ini pun kaum Muslim, yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat, tidak lagi melakukan maksiat meski Ramadhan telah berlalu. Maksiat terbesar yang harus segera ditinggalkan kaum Muslim saat ini adalah ketika mereka tidak menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan akibat ketiadaan Daulah Khilafah Islam di tengah-tengah mereka.
Ketiadaan Daulah Khilafah juga berarti umat ini tidak memiliki pelindung dari musuh-musuh Allah.
Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah)—yang memang sesuai dengan fitrah manusia—dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan kufur yang berasal dari sekularisme, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan umat manusia.
Mahabenar Allah yang berfirman:
]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).
Karena itu, pada Hari Kemenangan ini, sudah sepatutnya pula kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan syariah Islam.
Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan kegembiraan yang hakiki karena meraih kemenangan yang juga hakiki, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:
]وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ$بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ[
Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS ar-Rum [30]: 4-5).
Wa ma tawfiqi illa bilLah. []
Alhamdulillah, sudah selayaknya kita banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah berhasil melewati hari-hari Ramadhan hingga memasuki bagian akhir bulan yang penuh berkah ini.
Kini kita pun segera menyambut satu hari yang indah, Idul Fitri.
Namun, kita pun sepatutnya banyak beristigfar karena boleh jadi—meski ini jelas tidak kita harapkan—ibadah shaum pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa sebagai hikmah dari kewajiban puasa yang telah Allah titahkan kepada kita sepanjang bulan suci ini.
Karena itu sejatinya kita banyak bertafakur dan melakukan muhâsabah (instrospeksi diri): Layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri, yang sering dimaknai sebagai ‘kembali ke fitrah’ dan juga sebagai ‘hari kemenangan’?
Pertanyaan ini penting kita jawab dengan jujur, agar kita meninggalkan bulan Ramadhan ini tanpa kesia-siaan serta merayakan Idul Fitri nanti tanpa kehampaan, terutama jika dikaitkan dengan penegasan ulama:
ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته تزيد أو تقواه يزيد.
(Idul Fitri itu bukan milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang baru. Namun, Idul Fitri itu milik orang yang ketaatannya atau ketakwaannya bertambah).
ليس العيد لمن لبس الجديد و لكن العيد لمن أمن الوعيد (علي كره الله وجهه)
Bukanlah ied itu bagi yang mengenakan baju baru. Tapi bagi mereka yang mengimani hari yang dijanjikan (akhirat)" (Imam 'Ali bin Abi Thalib)
Ditanyakan pada sebagian ulama salafus shalih, "Kapankah kalian berhari raya?”
Mereka menjawab, “Pada hari kami tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Itulah hari raya kami. Hari raya itu bukan bagi orang-orang yang memakai pakaian kebesaran, tetapi bagi mereka yang mengimani azab akhirat. Bukan pula hari raya itu bagi mereka yang mengenakan pakaian yang indah, tetapi untuk mereka yang mengetahui jalan (Islam).” (Al-Kasykul, 1/82).
Kembali ke Fitrah
Idul Fitri sering diterjemahkan sebagai ‘kembali ke fitrah’. Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabî‘ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia. (Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).
Karena itu secara bahasa Idul Fitri bisa diterjemahkan sebagai ‘kembali ke naluri/pembawaan yang asli. Di antara naluri/pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama/religiusitas (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Mahaagung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan.
Karena itulah, secara fitrah, manusia akan selalu membutuhkan agama yang menuntun dirinya melakukan penyembahan (‘ibâdah) terhadap Tuhannya dengan benar. Itulah Islam sebagai satu-satunya agama dari Allah, Tuhan yang sebenarnya.
Konsekuensinya, sesuai dengan fitrahnya pula, manusia sejatinya senantiasa mendudukkan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhannya, Allah SWT, Pencipta manusia.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kembali ke fitrah—sebagai esensi dari Idul Fitri—adalah kembalinya manusia dalam kedudukannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah sebagai Tuhannya.
Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah, mesti menyadari bahwa: (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.
Membuang Sekularisme: Wujud Kembali ke Fitrah
Dengan memaknai kembali ke fitrah sebagai ‘kembali pada kesadaran sejati sebagai seorang hamba’, sudah sepatutnya kaum Muslim yang ber-Idul Fitri membuang jauh-jauh sekularisme. Mengapa? Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dalam kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan. Pasalnya, sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang hanya mengakui Tuhan dari sisi eksistensi (keberadaan)-Nya saja, tidak mengakui otoritas (kewenangan)-Nya untuk mengatur manusia.
Dengan kata lain, sekularisme hanya mengakui keberadaan agama, tetapi menolak kewenangan agama untuk mengatur kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, hak mengatur manusia atau hak membuat aturan bagi kehidupan manusia mutlak ada pada manusia itu sendiri, bukan pada Tuhan/agama. Hak ini kemudian mereka wujudkan dalam sistem demokrasi, yang menempatkan kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat) di atas kedaulatan Tuhan.
Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Saat ini, justru Kapitalismelah—dan bukan Islam—yang diterapkan di tengah-tengah kehidupan umat Islam saat ini, termasuk di negeri ini.
Padahal fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, banyak kerusakan, dan banyak kekacauan. Itulah yang terjadi seperti saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada manusia (rakyat) melalui mekanisme demokrasi. Mahabenar Allah yang berfirman:
]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).
Karena itu, perayaan Idul Fitri—yang dimaknai sebagai kembali ke fitrah itu—sudah sepatutnya dijadikan momentum untuk membuang sekularisme karena memang menjauhkan manusia dari fitrahnya yang hakiki sebagai hamba Allah.
Hari Kemenangan
Idul Fitri juga sering disebut sebagai hari kemenangan. Artinya, kaum Muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah shaum selama Ramadhan dianggap sebagai kaum yang meraih kemenangan. Persoalannya, shaum seperti apa yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi kaum yang menang? Tentu shaum yang berkualitas, sebagaimana yang dilakoni oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat.
Shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama bulan Ramadhan, tetapi juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam.
Mereka dan generasi gemilang sesudahnya, misalnya, justru sering mencatat prestasi yang gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fath Makkah, atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.
Kemenangan Perang Badar telah memperkuat posisi kaum Muslim di dunia internasional saat itu, terutama di Jazirah Arab; bahwa negara baru yang dibangun kaum Muslim, Daulah Islam, adalah negara kuat yang tidak bisa disepelekan. Kondisi ini tentu memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara Daulah Islam.
Bandingkan dengan kondisi kaum Muslim saat ini. Negeri-negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara kecil yang lemah. Kondisi ini membuat musuh-musuh Allah dengan gampang dan sombong membantai dan membunuh kaum Muslim serta mengekspolitasi kekayaan alamnya dengan rakus; tanpa ada pelindung sama sekali.
Perang Badar juga secara internal telah membuat pihak-pihak di dalam negeri Daulah Islam—orang-orang Yahudi, musyrik dan munafik—takut untuk berbuat macam-macam terhadap Daulah Islam.
Bandingkan dengan keberadaan orang-orang kafir dan antek-antek Barat saat-saat ini di Dunia Islam. Mereka berbuat makar dan kekejian seenaknya. Di negeri-negeri Islam, orang-orang kafir yang didukung oleh para penguasa yang menjadi antek-antek penjajah, membuat berbagai kebijakan yang merugikan rakyat.
Futûhât juga telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Lewat futûhât ini dakwah Islam diterima dengan mudah oleh manusia. Futûhât ini juga telah menjadi jalan bagi diterapkannya syariah Islam di seluruh kawasan dunia. Lewat penerapan syariah Islam inilah seluruh warga negera Daulah Islam, baik Muslim maupun non-Muslim mendapat kebahagian, kesejahteraan, dan keamanan. Peradaban Islam pun kemudian menjadi peradaban unggul.
Karena itu, ada beberapa hal yang wajib kita teladani dari shaum generasi Sahabat ini.
Pertama: para Sahabat tidak hanya melakukan tadarus al-Quran (baik di bulan Ramadhan maupun di luar itu), tetapi juga mengamalkannya. Sebab, para Sahabat memahami, bahwa membaca al-Quran adalah sunnah, sementara menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka adalah wajib. Mereka sangat menyadari bahwa al-Quran harus menjadi dasar konstitusi kaum Muslim.
Kedua: para Sahabat tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah. Tidak berdusta, tidak berbuat batil, tidak membuat kerusakan, dan tentu saja tidak berhukum pada selain hukum Allah Swt. Mereka tidak seperti kaum Muslim saat ini, yang justru masih berhukum pada perundang-undangan dan sistem kufur yang bersumber dari sekularisme.
Terakhir: para Sahabat telah nyata-nyata menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat. Tobat mereka adalah tawbah nasûhâ, tobat yang sebenar-benarnya. Cirinya: menyesali segala dosa yang dilakukan, tidak mengerjakannya lagi, dan beramal salih untuk menghapus dosa yang lalu.
Seharusnya saat ini pun kaum Muslim, yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat, tidak lagi melakukan maksiat meski Ramadhan telah berlalu. Maksiat terbesar yang harus segera ditinggalkan kaum Muslim saat ini adalah ketika mereka tidak menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan akibat ketiadaan Daulah Khilafah Islam di tengah-tengah mereka.
Ketiadaan Daulah Khilafah juga berarti umat ini tidak memiliki pelindung dari musuh-musuh Allah.
Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah)—yang memang sesuai dengan fitrah manusia—dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan kufur yang berasal dari sekularisme, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan umat manusia.
Mahabenar Allah yang berfirman:
]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).
Karena itu, pada Hari Kemenangan ini, sudah sepatutnya pula kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan syariah Islam.
Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan kegembiraan yang hakiki karena meraih kemenangan yang juga hakiki, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:
]وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ$بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ[
Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS ar-Rum [30]: 4-5).
Wa ma tawfiqi illa bilLah. []
Memelihara Amalan-Amalan Sunnah
Oleh: Arief B. Iskandar
Allah SWT berfirman (yang artinya):
Sembahlah Allah hingga datang kepada kamu sesuatu yang meyakinkan (maut) (TQS al-Hijr: 99).
Terkait ayat di atas, Imam asy-Sya’rawi menyatakan, bahwa ibadah adalah ketaatan seorang hamba kepada Zat Yang disembah. Ibadah itu sendiri mencakup seluruh gerak hidup manusia. Asy-Sya’rawi juga menegaskan, bahwa sesuatu yang meyakinkan yang disepakati oleh setiap orang—yang tidak ada pertentangan di dalamnya—adalah kematian. (Imam asy-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi, I/4836).
Ayat ini sesungguhnya memerintahkan kita untuk selalu istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT hingga akhir hayat kita. Sikap istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT hingga kematian menghampiri kita tentu hanya akan bisa dilakukan jika kita mampu memelihara amal-amal shalih kita, baik yang wajib maupun yang sunnah. Amalan yang wajib tentu tak perlu diperbincangkan lagi; mutlak harus dilakukan.
Hanya saja, wajib itu ada dua: fardhu ’ain dan fardhu kifayah. Sayangnya, fardhu kifayah ini sering diabaikan oleh kebanyakan Muslim hanya karena sudah ada sekelompok orang yang berusaha menunaikannya, padahal kelompok tersebut belum berhasil menunaikannya. Misalnya adalah kewajiban menegakkan Khilafah dan syariah Islam secara total dalam aspek kehidupan, sekaligus menyerbarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Padahal Baginda Rasulullah saw., sejak menerima wahyu pertama, diikuti oleh para Sahabat, tidak pernah sejenak pun beristirahat untuk berdakwah sekaligus berjuang menegakkan Islam hingga mereka berhasil mendirikan Daulah Islam (Negara Islam di Madinah).
Setelah Negara Islam berdiri pun, dakwah Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak berhenti. Melalui institusi Negara Islam yang mereka dirikan itu, Islam lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru dengan dakwah dan jihad. Mereka senantiasa istiqamah serta tanpa lelah terus berdakwah dan berjuang untuk Islam hingga datang kepada mereka sesuatu yang meyakinkan, yakni kematian.
Selain amal-amal yang wajib, tentu setiap Muslim harus memelihara amalan-amalan sunnah. Tentu karena amalan-amalan sunnah pun memiliki banyak keutamaan yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh setiap Muslim. Contohnya adalah shalat-shalat sunnah (nafilah). Dalam hal ini, Rasulullah saw., misalnya, pernah bersabda, ”Hendaklah kalian banyak bersujud. Sebab, siapa saja yang bersujud kepada Allah SWT satu kali, Dia akan mengangkat derajatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan (dosa).” (HR Muslim).
Di antara shalat sunnah yang paling utama adalah shalat malam (tahajud). Allah SWT berfirman (yang artinya):
Pada sebagian malam itu, bertahajudlah kalian sebagai ibadah tambahan bagi kalian. (Dengan shalat malam itu) Allah pasti mengangkat kalian ke derajat yang terpuji (TQS al-Isra’: 79).
Begitu pentingnya shalat tahajud ini, Rasulullah saw. sampai menyuruh kita untuk ”mengqadhanya” saat tertinggal. Beliau bersabda, ”Jika kalian tertinggal dari menunaikan shalat malam karena sakit atau hal lain, hendaklah kalian menunaikan shalat dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim).
Dalam hadis lain beliau bersabda, ”Siapa saja yang ketiduran hingga tidak menunaikan shalat witir atau sunnah-sunnahnya, hendaklah ia menunaikannya saat terjaga.” (HR Muslim).
Sebaliknya, Rasulullah saw. ”mencela” orang yang tidak melakukan shalat malam, padahal ia sering bangun tengah malam. Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-’Ash, ”Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan; ia bangun malam tetapi tidak menunaikan shalat malam.” (Mutaffaq ’alaih).
Dalam Al-Fath dinukil kata-kata Ibn ’Arabi, ”Di dalam hadis ini terdapat anjuran untuk mendawamkan amal kebajikan yang biasa dilakukan oleh seorang Muslim tanpa melalaikannya. Dapat disimpulkan dari hadis tersebut, bahwa makruh memutus ibadah (tidak mendawamkannya) meskipun bukan ibadah wajib.” (Muhammad ’Allan ash-Shiddqi, Dalil al-Falihin, I/313).
Amalan sunnah lain yang tak kalah utamanya adalah membaca Alquran. Baginda Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).
Beliau pun bersabda, ”Bacalah oleh kalian Alquran karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang yang terbiasa membaca dan mengamalkannya.” (HR Muslim).
Tentu masih banyak amalan-amalan sunnah yang lain seperti memperbanyak zikir, shaum sunnah (shaum Senin-Kamis, shaum Dawud, dll), bersedekah, dll. Semua itu selayaknya dilakukan secara kontinu (dawam). Pasalnya, kata Baginda Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ummul Mukmin Aisyah ra., ”Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang paling kontinu (dawam) dilakukan meski sedikit.” (HR al-Bukhari).
Semoga kita bisa mengamalkan sabda Nabi saw. di atas.
Wama tawfiqi illa bilLah. []
Langganan:
Postingan (Atom)